TASIKMALAYA — Semangat gotong royong masyarakat dalam membangun sarana pendidikan keagamaan kembali terlihat di Kampung Depok, RT 04/RW 03, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya.
Pada Minggu, 6 September 2026, masyarakat setempat menggelar peresmian pembangunan sekaligus gunting pita Madrasah Al Ahya. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung meriah dan penuh nuansa kebersamaan.
Peresmian Madrasah Al Ahya tidak sekadar menjadi seremoni selesainya pembangunan sebuah bangunan pendidikan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi gambaran bagaimana kepedulian masyarakat, semangat swadaya, dukungan para donatur, serta keinginan menghadirkan ruang pendidikan agama dapat berjalan beriringan.
Acara tersebut turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Sukajaya, H. Yan-Yan, S.IP., Ketua MUI Kelurahan Sukajaya, Ketua DMI Kelurahan Sukajaya, para tokoh masyarakat, sesepuh, tokoh agama, warga, serta sejumlah pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap pembangunan Madrasah Al Ahya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam kesempatan tersebut menghadirkan penceramah KH. Uspet, yang memberikan tausiah keagamaan kepada masyarakat yang hadir.
Antusiasme warga RW 03 dan masyarakat sekitar terlihat cukup tinggi. Warga hadir bukan hanya untuk menyaksikan peresmian bangunan madrasah, tetapi juga untuk menjadi bagian dari sebuah proses yang sejak awal dibangun melalui semangat kebersamaan.
Gunting Pita dan Potong Tumpeng Tandai Berdirinya Madrasah Al Ahya
Prosesi peresmian ditandai dengan pengguntingan pita yang dilakukan oleh Ibu Hj. Parman. Prosesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Yayasan Madrasah Al Ahya, H. Parman, S.Sos., M.Si.
Sementara itu, pemotongan kue dilakukan oleh salah seorang donatur yang kemudian menyerahkannya kepada Ibu Hj. Parman.
Rangkaian sederhana tersebut menjadi simbol rasa syukur atas rampungnya pembangunan Madrasah Al Ahya sekaligus penghargaan kepada berbagai pihak yang telah mengambil bagian dalam proses pembangunannya.
Dalam laporan Ketua Panitia Pelaksana, Ust. Abdul Rosid, disampaikan bahwa pembangunan Madrasah Al Ahya dapat diselesaikan berkat semangat gotong royong masyarakat Kampung Depok dan dukungan para donatur.
Menurutnya, keberadaan madrasah tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak pihak.
Ust. Rosid juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh masyarakat, para agnia, donatur, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta pihak-pihak lain yang telah memberikan dukungan, baik dalam bentuk materi, tenaga, pemikiran maupun doa.
Ia menyebut, pembangunan Madrasah Al Ahya hampir 90 persen terwujud melalui dukungan materi dari H. Parman, S.Sos., M.Si., yang disebut memberikan kontribusi besar dalam merealisasikan pembangunan sarana pendidikan tersebut.
Bukan Sekadar Bangunan, tetapi Investasi Pendidikan Generasi
Pembangunan Madrasah Al Ahya memiliki arti yang cukup penting bagi masyarakat Kampung Depok.
Sebuah bangunan madrasah pada hakikatnya bukan hanya terdiri dari dinding, ruang belajar, dan fasilitas penunjang. Di dalamnya terdapat harapan masyarakat agar generasi muda memiliki ruang untuk memperoleh pendidikan agama, pembentukan karakter, serta penanaman nilai moral dan sosial.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, keberadaan lembaga pendidikan keagamaan di tingkat lingkungan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan akhlak.
Karena itu, pembangunan Madrasah Al Ahya patut dilihat sebagai investasi sosial dan pendidikan yang manfaatnya diharapkan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Cevi, salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Bungursari, menilai keberhasilan pembangunan sarana pendidikan melalui swadaya masyarakat merupakan langkah awal yang penting bagi penguatan pendidikan agama di Kampung Depok.
Menurutnya, madrasah dapat menjadi wadah bagi tenaga pendidik dan para murid untuk menjalankan proses pembelajaran agama secara lebih terarah.
“Keberhasilan pembangunan sarana pendidikan dari swadaya masyarakat adalah kunci awal dan gerbang dalam dunia pendidikan agama di Kampung Depok. Madrasah ini diharapkan bukan hanya menjadi bangunan, tetapi menjadi wadah tumbuhnya generasi yang memiliki pengetahuan agama sekaligus karakter yang baik,” ujar Cevi.
Ia menilai, semangat masyarakat dalam membangun fasilitas pendidikan menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus menunggu seluruh kebutuhan dipenuhi melalui pemerintah.
Dalam konteks tertentu, masyarakat memiliki kekuatan besar ketika mampu mengorganisasi kepedulian, menyatukan tujuan, dan mengembangkan semangat gotong royong.
Namun demikian, dukungan pemerintah tetap penting, terutama dalam memastikan keberlanjutan pendidikan, kualitas tenaga pendidik, fasilitas pembelajaran, serta pembinaan kelembagaan.
Dengan demikian, pembangunan fisik madrasah seharusnya menjadi titik awal, bukan titik akhir.
Wakaf Lahan Keluarga Almarhum Ahya Jadi Fondasi Utama
Di balik berdirinya Madrasah Al Ahya, terdapat pula peran keluarga almarhum Bapak Ahya yang mewakafkan lahan untuk pembangunan madrasah.
Bagi masyarakat Kampung Depok, wakaf tersebut memiliki nilai historis sekaligus sosial yang cukup besar.
Tanah yang sebelumnya merupakan aset pribadi kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan keagamaan masyarakat. Nilai manfaatnya diharapkan dapat terus mengalir seiring berlangsungnya aktivitas pendidikan di madrasah tersebut.
Masyarakat Kampung Depok menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada keluarga almarhum Ahya atas keikhlasan mewakafkan lahan tersebut.
Secara sosial, wakaf tanah untuk pendidikan merupakan bentuk kontribusi yang tidak hanya berdampak pada satu generasi. Apabila dikelola dengan baik, manfaatnya dapat dirasakan oleh anak-anak dan generasi berikutnya.
Hal inilah yang membuat keberadaan Madrasah Al Ahya memiliki cerita yang lebih luas daripada sekadar pembangunan sebuah fasilitas pendidikan.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan Masyarakat
Semangat gotong royong juga menjadi salah satu catatan penting dalam pembangunan Madrasah Al Ahya.
Masyarakat tidak hanya hadir ketika peresmian berlangsung, tetapi turut memberikan dukungan dalam proses pembangunan.
Semangat tersebut menunjukkan bahwa modal sosial masyarakat masih memiliki kekuatan besar dalam menjawab kebutuhan bersama.
Cevi mengatakan, semangat gotong royong warga serta inisiatif para penggerak pembangunan kemudian diperkuat oleh kehadiran donatur yang terpanggil untuk memberikan sebagian hartanya bagi kepentingan pendidikan.
“Semangat gotong royong warga dan inisiatif para inisiator, kemudian ditunjang oleh donatur yang terpanggil hatinya untuk mewakafkan dan menyumbangkan sebagian hartanya agar dapat dipergunakan di jalan yang Insya Allah diridai Allah SWT,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi semacam itu perlu dipertahankan.
Sebab, pembangunan pendidikan tidak hanya membutuhkan gedung, tetapi juga membutuhkan kepedulian masyarakat secara berkelanjutan.
Madrasah membutuhkan guru, peserta didik, pengelola, kurikulum, fasilitas, serta dukungan masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan gedung merupakan fondasi fisik, sementara keberlanjutan pendidikan membutuhkan komitmen bersama.
Ketua RT Apresiasi Semua Pihak
Sementara itu, Ketua RT 001, Kinkin Zaenal Muttaqin, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut ambil bagian dalam pembangunan Madrasah Al Ahya.
Ia mengapresiasi dukungan masyarakat maupun para donatur yang telah memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk.
Menurutnya, banyak pihak yang ikut membantu sehingga tidak seluruhnya dapat disebutkan satu per satu.
Pembangunan Madrasah Al Ahya menjadi bukti bahwa ketika masyarakat memiliki tujuan bersama, berbagai keterbatasan dapat dihadapi melalui kebersamaan.
Rasa memiliki terhadap madrasah juga diharapkan terus tumbuh setelah bangunan selesai.
Sebab, tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan fasilitas tersebut benar-benar dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pendidikan dan pembinaan keagamaan.
Tantangan Berikutnya: Menjaga dan Mengembangkan Madrasah
Peresmian Madrasah Al Ahya hendaknya tidak dipahami sebagai akhir dari perjuangan pembangunan, melainkan sebagai awal dari tanggung jawab baru.
Setelah bangunan berdiri, tantangan yang tidak kalah penting adalah memastikan kegiatan pendidikan berjalan secara konsisten dan memiliki kualitas yang baik.
Ketersediaan tenaga pendidik, pengelolaan yayasan, administrasi kelembagaan, fasilitas belajar, pembinaan peserta didik, hingga partisipasi orang tua merupakan bagian yang harus mendapat perhatian.
Semangat gotong royong yang telah berhasil membangun gedung idealnya diteruskan dalam bentuk gotong royong pemikiran, tenaga, pembinaan dan kepedulian terhadap perkembangan para santri.
Dengan demikian, Madrasah Al Ahya tidak hanya berdiri kokoh secara fisik, tetapi juga mampu menjadi pusat pembelajaran agama dan pembentukan karakter generasi muda di Kampung Depok.
Maulid Nabi Menjadi Momentum Memperkuat Nilai Kebersamaan
Dirangkainya peresmian Madrasah Al Ahya dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga memberikan pesan tersendiri.
Maulid tidak hanya menjadi agenda seremonial keagamaan, tetapi dapat dijadikan momentum untuk mengingat kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW, terutama tentang akhlak, kepedulian terhadap sesama, persaudaraan dan pentingnya pendidikan.
Dalam konteks masyarakat Kampung Depok, nilai tersebut tampak melalui kebersamaan warga dalam menghadirkan sebuah fasilitas pendidikan yang diharapkan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Peresmian Madrasah Al Ahya dengan demikian menjadi pertemuan antara semangat keagamaan dan kepedulian sosial.
Masyarakat membangun fasilitasnya, para donatur memberikan dukungan, tokoh agama memberikan pembinaan, sementara generasi muda diharapkan menjadi penerima manfaat sekaligus penerus perjuangan tersebut.
Harapan untuk Generasi Kampung Depok
Keberadaan Madrasah Al Ahya diharapkan dapat memberikan warna baru bagi pendidikan keagamaan di Kampung Depok, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Bungursari.
Madrasah tersebut diharapkan menjadi ruang yang terbuka bagi anak-anak untuk belajar agama, memahami nilai-nilai moral, serta membangun karakter yang mampu menghadapi perkembangan zaman.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi generasi muda, pendidikan agama memiliki posisi strategis dalam memberikan fondasi nilai.
Namun, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tentu tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar lembaga tersebut mampu memberikan manfaat, melahirkan generasi berilmu, berakhlak dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Karena itu, setelah gunting pita dilakukan dan pembangunan dinyatakan rampung, pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai.
Madrasah Al Ahya kini memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan bangunan tersebut dengan kegiatan pendidikan yang berkualitas dan berkesinambungan.
Semangat para donatur, pengurus yayasan, tokoh agama, masyarakat dan keluarga pewakaf diharapkan menjadi energi yang terus mengiringi perjalanan madrasah.
Peresmian pada Minggu, 6 September 2026, akhirnya bukan sekadar catatan tentang berdirinya sebuah bangunan.
Ia menjadi catatan tentang bagaimana wakaf, gotong royong, kepedulian sosial dan semangat pendidikan keagamaan dapat bertemu dalam satu tujuan: menghadirkan ruang pembelajaran bagi generasi penerus Kampung Depok.
Dengan selesainya pembangunan Madrasah Al Ahya, masyarakat kini memiliki sebuah amanah bersama untuk menjaga, mengembangkan dan memastikan keberadaannya benar-benar memberikan manfaat bagi pendidikan serta kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.
(Redaksi Zona TV Nasional)



