KETIKA KEHATI-HATIAN MENJADI KEKUATAN PERS

 


Jangan Terburu-Buru Menjadi Hakim, Jadilah Penjaga Fakta

Oleh: CEVI SUPRIATNA
Pemimpin Redaksi Zona TV

Di tengah derasnya arus informasi digital, ada satu persoalan yang semakin penting untuk direnungkan oleh insan pers: seberapa cepat kita harus memberitakan sebuah persoalan, dan seberapa jauh kita harus memastikan kebenarannya sebelum berita tersebut dipublikasikan?

Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan teknis jurnalistik. Ini menyangkut credibility, public trust, dan bahkan masa depan sebuah media.

Hari ini, sebuah informasi dapat berpindah dari satu grup WhatsApp ke media sosial, kemudian menjadi bahan pemberitaan dalam hitungan menit. Persaingan mendapatkan breaking news membuat sebagian orang merasa bahwa siapa yang paling cepat adalah siapa yang paling unggul.

Namun dalam dunia jurnalistik yang sehat, speed should never defeat accuracy.

Kecepatan penting. Tetapi akurasi jauh lebih penting.

UNESCO dalam berbagai kajiannya mengenai jurnalisme dan information disorder menekankan pentingnya akurasi, verifikasi, penelitian yang mendalam, serta nilai-nilai etika dalam kerja jurnalistik. UNESCO juga mengingatkan bahwa melimpahnya informasi tidak otomatis menghasilkan informasi yang berkualitas dan akurat.

Maka, bagi saya, kehati-hatian bukan tanda bahwa seorang wartawan takut.

Hati-hati adalah tanda bahwa wartawan memahami konsekuensi dari setiap kata yang ia tuliskan.


JURNALIS BUKAN HAKIM

Dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama ketika berhadapan dengan dugaan pelanggaran hukum, dugaan penyalahgunaan kewenangan, dugaan praktik ilegal, dugaan korupsi, dugaan pencemaran lingkungan, maupun persoalan pelayanan publik, ada satu prinsip yang harus selalu dijaga:

Allegation is not conviction.

Dugaan bukanlah vonis.

Seseorang yang dilaporkan, dituduh, atau diduga melakukan pelanggaran belum otomatis dapat disebut sebagai pelaku kejahatan sebelum terdapat dasar hukum yang membuktikannya.

Karena itu, penggunaan kata-kata dalam pemberitaan harus dikendalikan dengan disiplin editorial.

Kata "diduga", "terindikasi", "berdasarkan informasi awal", "menurut keterangan narasumber", atau "masih memerlukan verifikasi lebih lanjut" bukanlah kata-kata untuk melemahkan berita.

Justru sebaliknya.

Itulah bentuk journalistic caution.

Wartawan boleh mengungkap persoalan, tetapi wartawan tidak boleh mengambil alih fungsi penyidik, jaksa, maupun hakim.

Pers bertugas mencari fakta, menguji fakta, mengonfirmasi fakta, lalu menyampaikan fakta tersebut kepada publik secara proporsional.


"TRUST, BUT VERIFY"

Dalam tradisi jurnalistik internasional terdapat sebuah prinsip yang sangat relevan:

"Trust, but verify."

Percaya kepada sumber bukan berarti menerima seluruh keterangannya tanpa pemeriksaan.

Seorang wartawan dapat memperoleh informasi dari masyarakat, pejabat, aparat penegak hukum, aktivis, akademisi, pekerja, korban, pelaku usaha maupun pihak yang dituduh.

Tetapi setiap sumber mempunyai perspektif.

Karena itu, informasi idealnya tidak berhenti pada satu suara.

Konsep multi-sourcing dan corroboration menjadi sangat penting dalam pekerjaan jurnalistik. UNESCO juga menempatkan verifikasi dan akurasi sebagai bagian penting dari standar profesional jurnalistik.

Artinya sederhana:

Satu sumber memberikan informasi. Sumber kedua memberikan pembanding. Dokumen memberikan bukti. Konfirmasi memberikan keseimbangan.

Barulah redaksi mempunyai dasar yang lebih kuat untuk menentukan apakah sebuah informasi layak dipublikasikan.


BELAJAR DARI BUKU-BUKU JURNALISME INTERNASIONAL

Dalam The Elements of Journalism, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menempatkan pencarian kebenaran sebagai salah satu fondasi utama jurnalisme.

Gagasan tersebut sangat relevan dengan kondisi media hari ini.

Jurnalisme bukan sekadar aktivitas memindahkan informasi dari satu pihak kepada masyarakat. Jurnalisme mempunyai tanggung jawab untuk membantu masyarakat memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu, dalam literatur etika media internasional, persoalan independensi, akurasi, keberimbangan, tanggung jawab terhadap sumber dan masyarakat selalu menjadi bagian penting dari pekerjaan wartawan.

Dengan kata lain:

A good journalist does not merely ask, "Is this newsworthy?"

Tetapi juga bertanya:

"Is it verified? Is it fair? Is it necessary? Is it in the public interest? And can we defend every sentence we publish?"

Lima pertanyaan sederhana tersebut seharusnya menjadi editorial checklist sebelum sebuah berita ditayangkan.


JANGAN MENJADIKAN VIRAL SEBAGAI UKURAN KEBENARAN

Era digital telah mengubah perilaku masyarakat.

Sebuah informasi yang mendapatkan ribuan views, likes, shares, dan komentar sering dianggap sebagai informasi yang benar.

Padahal:

Viral does not mean verified.

UNESCO mencatat bahwa ekosistem informasi digital menghadirkan tantangan serius karena informasi yang populer belum tentu berkualitas atau akurat.

Bahkan dalam konteks user-generated content, Reuters menjelaskan bahwa proses verifikasi dapat melibatkan pemeriksaan pembuat konten, metadata, kondisi cuaca, citra satelit, sumber publik lainnya, hingga pembandingan dengan foto atau video dari saksi lain.

Ini memberikan pelajaran penting bagi media lokal sekalipun:

Jangan karena sebuah foto terlihat meyakinkan, kita langsung menyimpulkan bahwa konteksnya benar.

Jangan karena sebuah video viral, kita langsung menganggap waktu dan tempat kejadian sesuai dengan narasi yang beredar.

Dan jangan karena seseorang berbicara dengan penuh keyakinan, kita menganggap seluruh keterangannya otomatis benar.


BERITA INVESTIGASI MEMERLUKAN NAPAS PANJANG

Dalam persoalan yang sensitif, investigative journalism tidak boleh dikerjakan dengan mentalitas "kejar tayang".

Jika sebuah pemberitaan menyangkut nama baik seseorang, reputasi perusahaan, dugaan tindak pidana, dugaan pelanggaran izin, persoalan kesehatan, lingkungan, pendidikan, pemerintahan atau lembaga publik, maka redaksi harus bekerja dengan extraordinary care.

Minimal ada beberapa hal yang perlu diperiksa:

  1. Apa fakta awalnya?
  2. Dari mana informasi tersebut diperoleh?
  3. Apakah sumber mempunyai kepentingan tertentu?
  4. Apakah tersedia dokumen pendukung?
  5. Apakah sudah dilakukan konfirmasi kepada pihak yang diberitakan?
  6. Apakah ada pihak lain yang dapat memberikan keterangan pembanding?
  7. Apakah istilah yang digunakan sesuai dengan fakta yang tersedia?
  8. Apakah berita mencampurkan fakta dengan opini?
  9. Apakah publik memang mempunyai kepentingan yang sah untuk mengetahui persoalan tersebut?
  10. Apakah redaksi siap mempertanggungjawabkan setiap kalimat yang dipublikasikan?

Jika jawaban atas pertanyaan tersebut belum memadai, maka tidak ada salahnya mengatakan:

"Kita belum cukup memiliki data."

Itu bukan kegagalan jurnalistik.

Itu adalah professional integrity.


HAK JAWAB BUKAN MUSUH PERS

Ada kecenderungan sebagian orang menganggap hak jawab atau klarifikasi sebagai ancaman terhadap kebebasan pers.

Saya justru melihatnya secara berbeda.

Klarifikasi adalah mekanisme koreksi dan keseimbangan informasi.

Jika sebuah media menulis mengenai dugaan persoalan tertentu, maka pihak yang diberitakan harus diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan.

Sebab sebuah berita yang hanya menghadirkan satu sisi dapat berubah menjadi one-sided narrative.

Dalam jurnalistik profesional, keberimbangan bukan berarti wartawan harus membuat semua pihak terlihat benar.

Keberimbangan berarti setiap pihak yang relevan mendapatkan kesempatan yang wajar untuk menyampaikan posisi dan faktanya.


KETIKA SUMBER MEMINTA DIRAHASIAKAN

Pers juga membutuhkan sumber yang dapat memberikan informasi sensitif.

Dalam praktik jurnalistik internasional, confidential sources memiliki posisi penting, terutama dalam investigasi yang menyangkut kepentingan publik. Literatur UNESCO mengenai keselamatan dan praktik jurnalistik juga mengakui pentingnya perlindungan sumber dalam kondisi tertentu.

Namun perlindungan sumber tidak boleh menjadi alasan bagi wartawan untuk berhenti melakukan verifikasi.

Identitas sumber boleh dirahasiakan ketika memang terdapat alasan profesional yang kuat.

Tetapi:

The source may be confidential; the facts cannot be careless.

Sumber boleh anonim.

Fakta tetap harus diuji.


ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE MEMBUAT KEHATI-HATIAN SEMAKIN PENTING

Tantangan jurnalistik sekarang bukan hanya informasi palsu.

Ada deepfake, AI-generated images, manipulated videos, synthetic audio, dan berbagai bentuk rekayasa digital yang semakin sulit dibedakan dari materi asli.

UNESCO pada 2026 kembali menyoroti tantangan AI dan deepfake terhadap kemampuan publik membedakan fakta dan manipulasi.

Reuters bahkan memiliki proses khusus visual verification untuk menguji keaslian foto dan video yang akan digunakan dalam pemberitaan. Proses tersebut dapat mencakup pemeriksaan sumber asli, metadata, kondisi lingkungan, data cuaca, citra satelit dan pembandingan dengan sumber visual lainnya.

Maka bagi media hari ini, termasuk media lokal:

Never publish first and verify later.

Verifikasi harus dilakukan before publication, bukan setelah berita menjadi viral.


PERS HARUS BERANI, TETAPI TIDAK SEMBRONO

Ada perbedaan besar antara berani dan sembrono.

Wartawan berani ketika mengungkap persoalan yang memang mempunyai kepentingan publik.

Wartawan sembrono ketika mempublikasikan tuduhan tanpa verifikasi yang memadai.

Wartawan berani ketika bertanya kepada pejabat mengenai dugaan persoalan.

Wartawan sembrono ketika mengubah dugaan menjadi kesimpulan.

Wartawan berani ketika menyampaikan fakta yang tidak populer.

Wartawan sembrono ketika menggunakan judul yang lebih keras daripada fakta yang dimilikinya.

Karena itu, keberanian jurnalistik harus selalu berjalan bersama:

Accuracy. Independence. Fairness. Verification. Accountability.

Lima hal tersebut bukan sekadar istilah asing untuk mempercantik tulisan.

Itu adalah working principles.


ZONA TV DAN TANGGUNG JAWAB EDITORIAL

Sebagai Pemimpin Redaksi Zona TV, saya memandang bahwa media tidak boleh hanya berlomba menjadi yang pertama.

Media harus berlomba menjadi yang paling dapat dipercaya.

Kepercayaan publik tidak dibangun dalam satu berita.

Ia dibangun dari ribuan keputusan kecil redaksi:

memeriksa dokumen,

menghubungi narasumber,

meminta klarifikasi,

membedakan fakta dan opini,

mengoreksi kesalahan,

melindungi sumber yang memang perlu dilindungi,

dan menolak menerbitkan informasi yang belum cukup terverifikasi.

Credibility is built slowly, but destroyed quickly.

Satu berita yang tidak akurat dapat merusak reputasi media yang dibangun selama bertahun-tahun.

Karena itu, saya percaya bahwa dalam menghadapi berbagai persoalan—baik hukum, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, ekonomi maupun persoalan sosial—pers harus mengambil posisi yang cerdas:

tidak takut mengungkap, tetapi tidak gegabah menuduh.

Tidak tunduk kepada kekuasaan, tetapi juga tidak menjadi alat kepentingan pihak tertentu.

Tidak membungkam kritik, tetapi juga tidak menjadikan kritik sebagai vonis.


PENUTUP: KATA-KATA MEMILIKI KONSEKUENSI

Pada akhirnya, seorang wartawan bekerja dengan kata-kata.

Tetapi kata-kata memiliki konsekuensi.

Satu kata dapat membangun reputasi.

Satu kata dapat menghancurkan reputasi.

Satu judul dapat membuka mata publik terhadap persoalan yang selama ini tersembunyi.

Namun satu judul yang tidak akurat juga dapat menciptakan ketidakadilan.

Maka prinsip yang perlu kita pegang sederhana:

"Publish with courage, but verify with discipline."

Berani memberitakan.

Disiplin memverifikasi.

Berani mengkritik.

Tetapi tetap memberikan ruang klarifikasi.

Berani membongkar persoalan.

Namun tidak mengubah dugaan menjadi vonis.

Sebab pada akhirnya, jurnalisme bukan perlombaan untuk menjadi yang paling keras berbicara.

Jurnalisme adalah tanggung jawab untuk membantu masyarakat menemukan fakta di tengah kebisingan informasi.

Dan ketika dunia semakin dipenuhi misinformation, disinformation, serta konten buatan AI, mungkin justru kehati-hatian adalah bentuk keberanian jurnalistik yang paling tinggi.

CEVI SUPRIATNA
Pemimpin Redaksi Zona TV


Lebih baru Lebih lama