HARU DAN SYUKUR DI PELOSOK PANGANDARAN: PERJUANGAN PENGUSAHA LAMPUNG DAN GANDARA GROUP37 BANGUN MASJID MEGAH MENEMBUS PEGUNUNGAN

 

PANGANDARAN, JAWA BARAT — Di balik pesona pariwisata Kabupaten Pangandaran yang dikenal luas dengan keindahan pantai dan potensi alamnya, tersimpan kisah kemanusiaan yang menyentuh hati dari wilayah pelosok yang jauh dari keramaian. Di tengah jalan yang berliku, tanjakan terjal, serta akses menuju perkampungan yang tidak mudah dilalui, tumbuh sebuah harapan besar masyarakat untuk memiliki rumah ibadah yang layak, nyaman, dan representatif.

Harapan tersebut perlahan menjadi kenyataan melalui kepedulian seorang pengusaha asal Lampung, H. Nuryadin, Owner UD Siraja Besi Tua Lampung, bersama Owner Gandara Group37, H. Cahya Gandara. Keduanya hadir membawa semangat kepedulian sosial dan keagamaan dengan membantu mewujudkan pembangunan masjid bagi masyarakat di pelosok Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.

Perjalanan menuju lokasi bukanlah perkara mudah. Medan yang menantang, jarak yang harus ditempuh, serta kondisi geografis perkampungan menjadi bagian dari perjuangan untuk memastikan masyarakat di wilayah terpencil juga mendapatkan perhatian yang layak. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkah para dermawan untuk hadir langsung di tengah masyarakat.

Kunjungan yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 itu menjadi momentum penuh makna. Bukan semata-mata tentang berdirinya bangunan masjid yang megah, melainkan juga tentang hadirnya harapan baru, tumbuhnya rasa kebersamaan, serta terbukanya kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan mereka.

Suasana haru menyelimuti penyambutan para tamu. Senyum bahagia, lantunan sholawat, tabuhan rebana dari ibu-ibu majelis taklim, hingga air mata yang menetes dari sejumlah warga menjadi gambaran betapa besar arti bantuan tersebut bagi masyarakat setempat.

Bagi sebagian orang, pembangunan masjid mungkin dipandang sebagai proyek fisik yang dapat diukur melalui luas bangunan, kekuatan konstruksi, dan kemegahan arsitektur. Namun, bagi warga pelosok yang selama ini menghadapi keterbatasan dana dan akses, berdirinya masjid baru merupakan simbol bahwa harapan mereka tidak pernah benar-benar dilupakan.

MENEMBUS PEGUNUNGAN, MENGANTARKAN HARAPAN KE DUA KAMPUNG

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, H. Nuryadin bersama Owner Gandara Group37, H. Cahya Gandara, mendatangi dua lokasi pembangunan masjid di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.

Agenda pertama dilaksanakan pada pagi hari melalui peresmian Masjid Al Gandara yang berada di Dusun Cibuluh 2, RT 17–18/RW 05, Desa Cibuluh. Setelah itu, seusai salat Zuhur, rombongan melanjutkan kegiatan ke Dusun Sindangkasih, Desa Banjarharja, untuk meresmikan Masjid Al Gandara di wilayah tersebut.

Dua lokasi ini menjadi saksi perjalanan panjang sebuah ikhtiar sosial yang bertumpu pada semangat gotong royong, kepedulian, dan keyakinan bahwa pembangunan rumah ibadah merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Kehadiran para dermawan disambut antusias oleh warga. Masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan dalam mewujudkan pembangunan masjid akhirnya dapat menyaksikan rumah ibadah yang lebih representatif berdiri di lingkungan mereka.

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, peresmian tersebut bukan sekadar seremoni pemotongan pita atau penandaan selesainya pembangunan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pertemuan antara niat baik para pemberi bantuan dan rasa syukur masyarakat yang menerima manfaatnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, H. Asep Nurdin, serta Kapolres Pangandaran, AKBP Ikrar Potawari, S.H., S.I.K., M.Si., M.I. Kehadiran unsur pimpinan daerah dan aparat kepolisian menambah makna tersendiri bagi kegiatan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat tersebut.

Dalam pandangan sosial, pembangunan rumah ibadah di daerah terpencil patut mendapat perhatian bersama. Sebab, keberadaan masjid bukan hanya menyediakan tempat untuk melaksanakan salat berjamaah, tetapi juga dapat menjadi ruang berkumpul, bermusyawarah, belajar agama, memperkuat persaudaraan, dan menanamkan nilai-nilai moral kepada generasi muda.

Ketika sebuah masjid berdiri di tengah masyarakat, yang diharapkan tumbuh bukan hanya aktivitas ritual keagamaan, melainkan juga kehidupan sosial yang lebih harmonis dan saling menguatkan.

H. NURYADIN: KEBAIKAN HARUS MENJANGKAU MASYARAKAT PELOSOK

Di tengah perjalanan menuju lokasi yang tidak selalu mudah dijangkau, kehadiran H. Nuryadin memperlihatkan bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.

Sebagai Owner UD Siraja Besi Tua Lampung, ia bersama Gandara Group37 turut mengambil bagian dalam upaya membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan untuk membangun sarana ibadah.

Dalam kegiatan tersebut, H. Nuryadin menyampaikan rasa syukur atas sambutan masyarakat yang begitu hangat.

"Alhamdulillah, warga sangat luar biasa. Semoga kebaikan ini bisa menjadi pendorong dalam meningkatkan syiar Islam di Pangandaran. Kini masyarakat memiliki bangunan masjid yang representatif untuk beribadah," ungkap H. Nuryadin.

Pernyataan tersebut mencerminkan harapan agar pembangunan masjid tidak berhenti pada penyelesaian fisik semata. Bangunan yang telah berdiri diharapkan menjadi titik awal bagi semakin berkembangnya kegiatan keagamaan, pendidikan Islam, dan pembinaan karakter masyarakat.

Dalam perspektif opini sosial, kepedulian seorang pengusaha terhadap kebutuhan masyarakat merupakan salah satu bentuk tanggung jawab moral yang patut diapresiasi. Keberhasilan dalam dunia usaha tidak hanya dapat dimaknai dari pertumbuhan aset atau keuntungan, tetapi juga dari seberapa jauh kemampuan dan sumber daya yang dimiliki dapat memberikan manfaat kepada sesama.

Tentu saja, kepedulian semacam ini tidak berarti bahwa seluruh tanggung jawab pembangunan harus dibebankan kepada pengusaha atau donatur. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai unsur sosial tetap memiliki peran masing-masing. Namun, ketika pihak swasta mengambil inisiatif membantu kebutuhan mendasar masyarakat, kontribusi tersebut dapat menjadi kekuatan tambahan yang sangat berarti.

Lebih jauh, perjalanan menuju pelosok Pangandaran memberikan pesan bahwa jarak geografis seharusnya tidak menjadi penghalang bagi tumbuhnya solidaritas kemanusiaan.

Masyarakat di daerah terpencil tetap memiliki hak untuk memperoleh kesempatan yang layak dalam menjalankan kehidupan sosial dan keagamaan. Karena itu, kepedulian yang menjangkau wilayah dengan akses sulit patut dijadikan inspirasi bagi gerakan sosial lainnya.

AIR MATA AJENGAN SOPIUDIN: KETIKA HARAPAN LAMA MENJADI KENYATAAN

Bagi masyarakat Dusun Cibuluh 2, pembangunan Masjid Al Gandara memiliki arti yang jauh melampaui kemegahan sebuah bangunan.

Sebelum pembangunan dilakukan, kondisi masjid lama dinilai sudah tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, kemampuan swadaya warga sangat terbatas sehingga rencana pembangunan dalam skala besar menjadi tantangan yang tidak mudah diselesaikan.

Keadaan tersebut membuat masyarakat harus berhadapan dengan kenyataan bahwa keinginan untuk memiliki rumah ibadah yang lebih layak tidak selalu dapat diwujudkan hanya melalui semangat gotong royong, terutama ketika kebutuhan dana pembangunan jauh melampaui kemampuan warga.

Namun, keterbatasan ekonomi bukan berarti masyarakat kehilangan semangat untuk memperjuangkan kebutuhan bersama.

Tokoh masyarakat Dusun Cibuluh 2, Ajengan Sopiudin, tidak mampu menyembunyikan rasa harunya ketika menyampaikan ungkapan terima kasih atas terwujudnya pembangunan masjid tersebut.

"Kami sangat bersyukur bisa memiliki masjid yang megah karena sebelumnya masyarakat kebingungan untuk bisa membangun masjid, sebab dana yang terkumpul sangat terbatas," tuturnya sambil menitikkan air mata.

Air mata yang mengiringi ungkapan tersebut menjadi gambaran betapa panjang harapan yang tersimpan di tengah masyarakat.

Dalam kehidupan sosial, ada kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan nilai materi. Salah satunya adalah ketika sebuah kebutuhan bersama yang selama bertahun-tahun terasa sulit diwujudkan akhirnya memperoleh jalan keluar.

Bagi Ajengan Sopiudin dan warga setempat, berdirinya masjid baru merupakan jawaban atas kebutuhan yang selama ini mereka perjuangkan. Kebahagiaan tersebut lahir dari pertemuan antara ikhtiar masyarakat, dukungan para dermawan, dan semangat untuk membangun kehidupan keagamaan yang lebih baik.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang terlihat dari luar, melainkan juga tentang perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat penerima manfaat.

Masjid yang megah akan semakin bernilai apabila keberadaannya mampu mendekatkan masyarakat kepada nilai-nilai kebaikan, mempererat persaudaraan, dan memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar agama serta membangun karakter yang kuat.

Karena itu, rasa syukur masyarakat Cibuluh 2 sepatutnya menjadi awal dari tanggung jawab bersama untuk menjaga dan memakmurkan masjid tersebut.

SYUKUR MENDALAM DARI DUSUN SINDANGKASIH

Kebahagiaan serupa juga dirasakan masyarakat Dusun Sindangkasih, Desa Banjarharja. Peresmian Masjid Al Gandara di wilayah tersebut menjadi momentum yang mempertemukan rasa syukur masyarakat dengan kepedulian para pihak yang telah membantu pembangunan.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al Gandara, Ahmad Wahidun, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para dermawan yang telah memberikan bantuan.

"Kami atas nama DKM mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kucuran bantuan yang begitu berlimpah. Kami tidak bisa membalas budi baik ini, semoga harta para dermawan terus dilipatgandakan oleh Allah SWT," ujarnya terharu.

Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa bantuan pembangunan rumah ibadah bukan hanya menghadirkan manfaat fisik, melainkan juga meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat yang merasakannya.

Bagi pengurus DKM, tanggung jawab berikutnya adalah memastikan masjid dapat digunakan secara optimal dan dikelola dengan baik. Sebab, pembangunan fisik merupakan satu tahap, sedangkan menjaga keberlangsungan fungsi masjid membutuhkan komitmen jangka panjang.

Masjid yang telah berdiri megah perlu dihidupkan melalui salat berjamaah, pengajian, pendidikan Al-Qur'an, pembinaan anak-anak dan remaja, kegiatan majelis taklim, serta berbagai aktivitas sosial yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks ini, peran DKM menjadi sangat penting. Pengurus masjid diharapkan mampu mengembangkan kegiatan yang terbuka, bermanfaat, dan dapat melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Dengan pengelolaan yang baik, Masjid Al Gandara di Sindangkasih diharapkan tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan kebersamaan warga.

Sebuah bangunan dapat diselesaikan dalam hitungan waktu tertentu, tetapi membangun tradisi kebaikan membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan partisipasi seluruh masyarakat.

Oleh sebab itu, bantuan yang telah diberikan para dermawan perlu dijaga nilainya melalui kegiatan nyata yang berkelanjutan.

KETUA DPRD PANGANDARAN APRESIASI PERAN SWASTA

Kehadiran Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, H. Asep Nurdin, dalam peresmian kedua masjid tersebut menjadi salah satu bagian penting dari kegiatan.

Menurut informasi yang disampaikan dalam rangkaian kegiatan, H. Asep Nurdin mempercepat agenda paripurna peringatan hari jadi Kabupaten Pangandaran agar dapat menghadiri peresmian masjid di wilayah Kalipucang.

Kehadiran tersebut menunjukkan perhatian terhadap pembangunan sarana keagamaan dan kebutuhan masyarakat di daerah yang memiliki tantangan geografis.

Dalam keterangannya, Asep Nurdin mengapresiasi kepedulian pihak swasta yang ikut membantu pembangunan fasilitas keagamaan, terutama di tengah keterbatasan fiskal daerah.

"Alhamdulillah, pembangunan masjid di Pangandaran bisa terus berjalan di tengah keterbatasan fiskal berkat adanya Gandara Group. Peresmian ini juga terasa istimewa karena bertepatan dengan HUT Kabupaten Pangandaran yang ke-25," ungkap Asep Nurdin.

Apresiasi tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjawab kebutuhan publik.

Dalam kondisi ketika kemampuan anggaran daerah harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga pembangunan sosial, dukungan pihak swasta dapat menjadi pelengkap yang bermanfaat.

Namun, dari sudut pandang kebijakan publik, keterlibatan pengusaha dan donatur hendaknya dipahami sebagai bentuk kemitraan, bukan sebagai pengganti kewajiban pemerintah untuk menjalankan pelayanan sesuai kewenangannya.

Pemerintah tetap perlu memastikan pembangunan daerah berlangsung secara berkeadilan, termasuk memperhatikan wilayah pelosok yang menghadapi keterbatasan akses terhadap berbagai fasilitas dasar.

Di sisi lain, dunia usaha dapat mengambil peran melalui kegiatan tanggung jawab sosial, filantropi, dan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Apabila hubungan tersebut dibangun atas dasar transparansi dan kepentingan masyarakat, kolaborasi semacam ini berpotensi menghasilkan manfaat yang lebih luas.

Bukan hanya masjid yang dapat dibangun, melainkan juga berbagai inisiatif sosial lain yang membantu meningkatkan kualitas kehidupan warga.

Pangandaran memiliki potensi pariwisata yang besar. Akan tetapi, kemajuan daerah idealnya tidak hanya dinilai dari pertumbuhan kunjungan wisatawan, pembangunan kawasan wisata, atau peningkatan aktivitas ekonomi. Perhatian terhadap masyarakat yang tinggal jauh dari pusat keramaian juga merupakan bagian penting dari ukuran keberhasilan pembangunan.

Masyarakat di pegunungan dan perkampungan terpencil perlu mendapatkan ruang yang sama untuk berkembang, memperkuat kehidupan sosial, dan memperoleh dukungan sesuai kebutuhan mereka.

Dalam perspektif tersebut, pembangunan dua Masjid Al Gandara di Kecamatan Kalipucang dapat menjadi momentum untuk kembali mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tidak melupakan kebutuhan masyarakat di wilayah yang aksesnya masih menantang.

RATUSAN PAKET SEMBAKO, KEPEDULIAN YANG MENYENTUH KEBUTUHAN SEHARI-HARI

Kegiatan peresmian kedua masjid tersebut tidak hanya diisi dengan agenda keagamaan dan seremoni. Rangkaian kunjungan juga disertai kegiatan bakti sosial berupa pembagian ratusan paket sembako kepada masyarakat kurang mampu yang tinggal di sekitar lingkungan masjid.

Bantuan tersebut memberikan dimensi kemanusiaan yang lebih luas dalam kegiatan para dermawan di Pangandaran.

Jika pembangunan masjid merupakan investasi sosial dan keagamaan untuk jangka panjang, pembagian sembako menjadi bentuk kepedulian yang dapat membantu kebutuhan rumah tangga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya memperlihatkan bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Ada bantuan yang hasilnya dinikmati dalam jangka panjang, dan ada pula bantuan yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

Dalam kehidupan masyarakat, kebutuhan spiritual dan kebutuhan ekonomi merupakan dua hal yang sama-sama penting. Rumah ibadah yang layak dapat mendukung kehidupan keagamaan, sedangkan bantuan kebutuhan pokok dapat membantu meringankan beban keluarga yang sedang menghadapi keterbatasan.

Meski demikian, bantuan sosial sebaiknya tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Apabila memungkinkan, kegiatan serupa dapat dikembangkan melalui program yang lebih berkelanjutan, seperti pemberdayaan usaha mikro, pelatihan keterampilan, dukungan pendidikan anak, dan penguatan ekonomi keluarga.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian.

Bagi Gandara Group37 dan para dermawan yang terlibat, kegiatan sosial tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat kehadiran dunia usaha di tengah masyarakat.

Kepedulian yang baik bukan semata-mata tentang besarnya bantuan yang disalurkan, tetapi juga tentang kesungguhan dalam memahami kebutuhan masyarakat dan menjaga agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

H. CAHYA GANDARA: MASJID HARUS MENJADI PUSAT PERADABAN

Owner Gandara Group37, H. Cahya Gandara, menyampaikan pesan agar masyarakat menjaga, merawat, dan memakmurkan masjid yang telah dibangun.

Ia berharap keberadaan masjid tersebut dapat mendorong perkembangan syiar Islam di Dusun Cibuluh 2 dan Dusun Sindangkasih serta memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

"Kami berharap syiar Islam di Cibuluh 2 dan Sindangkasih bisa lebih gebyar lagi. Semoga masjid yang kami bangun bisa menjadi pusat peradaban di Pangandaran dan mencetak generasi muda yang unggul serta hebat di masa depan," pesannya.

Harapan tersebut mengandung makna penting. Masjid yang megah tidak seharusnya hanya menjadi simbol keberhasilan pembangunan fisik, tetapi perlu dihidupkan melalui kegiatan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Istilah pusat peradaban dapat dimaknai sebagai ruang tumbuhnya nilai-nilai keimanan, ilmu pengetahuan, akhlak, persaudaraan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.

Dalam sejarah kehidupan umat Islam, masjid memiliki fungsi yang luas sebagai tempat ibadah sekaligus ruang pembelajaran dan penguatan hubungan sosial. Semangat tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Anak-anak dapat memperoleh pendidikan Al-Qur'an dan pembinaan akhlak. Para remaja dapat dilibatkan dalam kegiatan positif yang mendorong kreativitas, kedisiplinan, dan kepemimpinan. Orang tua dapat berpartisipasi dalam pengajian dan kegiatan sosial. Sementara itu, masyarakat secara keseluruhan dapat menjadikan masjid sebagai ruang untuk mempererat silaturahmi.

Apabila program-program tersebut berjalan secara konsisten, keberadaan masjid berpotensi memberikan manfaat yang jauh lebih luas dibandingkan fungsi bangunannya semata.

Masjid juga dapat menjadi ruang tumbuhnya kepedulian terhadap tetangga yang sedang mengalami kesulitan, keluarga yang membutuhkan bantuan, anak-anak yang memerlukan dukungan pendidikan, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian.

Tentu saja, keberhasilan mewujudkan fungsi tersebut bergantung pada pengelolaan yang baik, partisipasi warga, serta komitmen para pengurus dan jamaah.

Karena itu, pesan H. Cahya Gandara patut dipahami sebagai ajakan untuk melanjutkan kebaikan setelah proses pembangunan selesai.

Pekerjaan besar berikutnya bukan lagi sekadar mendirikan bangunan, melainkan memastikan bahwa masjid benar-benar hidup, ramai dengan kegiatan bermanfaat, dan mampu menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat sekitarnya.

KOMITMEN MEMBANGUN LEBIH DARI 2.400 MASJID

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam rangkaian kegiatan tersebut, Gandara Group37 telah berkomitmen membangun lebih dari 2.400 masjid di berbagai daerah di Jawa Barat. Puluhan di antaranya disebut telah berdiri dan diresmikan untuk kemaslahatan umat di Kabupaten Pangandaran.

Informasi mengenai skala program tersebut memperlihatkan besarnya cita-cita yang ingin diwujudkan melalui pembangunan sarana ibadah di berbagai wilayah.

Apabila komitmen tersebut terus dijalankan secara konsisten, program pembangunan masjid dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi sosial dunia usaha yang menjangkau masyarakat lintas daerah.

Namun, besarnya jumlah bangunan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Keberhasilan program juga perlu dilihat dari kualitas pembangunan, kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat, keberlanjutan pengelolaan, dan sejauh mana masjid tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh jamaah.

Masjid yang dibangun di wilayah terpencil, misalnya, memerlukan perhatian terhadap ketersediaan air bersih, fasilitas sanitasi, akses bagi jamaah, pemeliharaan bangunan, serta kemampuan masyarakat dalam mengelola kegiatan rutin.

Hal-hal tersebut penting agar bangunan yang telah didirikan dapat bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Dukungan para dermawan juga perlu disambut dengan semangat tanggung jawab masyarakat. Warga dapat mengambil bagian melalui pemeliharaan fasilitas, kegiatan kebersihan, pengelolaan keuangan DKM secara transparan, serta penyelenggaraan program keagamaan yang sesuai dengan kebutuhan jamaah.

Dengan cara demikian, pembangunan masjid tidak hanya menghadirkan hasil fisik, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.

Komitmen sosial yang besar akan semakin bermakna apabila dibarengi tata kelola yang baik, keterbukaan informasi, dan kesungguhan untuk memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

OPINI: KEMEGAHAN BANGUNAN HARUS SEJALAN DENGAN KEMAJUAN UMAT

Peristiwa di pelosok Kalipucang memberikan pelajaran bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari pusat kota, kawasan ekonomi, atau lokasi yang mudah dijangkau.

Justru di wilayah yang menghadapi keterbatasan akses, kepedulian sosial dapat memberikan arti yang sangat mendalam bagi masyarakat.

Ketika sebuah masjid berdiri di tengah perkampungan yang jalannya berliku dan jauh dari keramaian, kehadirannya menjadi simbol bahwa masyarakat di wilayah tersebut juga memiliki harapan untuk menikmati kehidupan keagamaan yang lebih baik.

Namun, kita juga perlu melihat persoalan ini secara lebih luas. Pembangunan masjid merupakan langkah penting, tetapi kebutuhan masyarakat tidak hanya terbatas pada sarana ibadah.

Masyarakat pelosok juga membutuhkan infrastruktur jalan yang memadai, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan ekonomi, serta fasilitas publik yang menunjang kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, kisah pembangunan Masjid Al Gandara semestinya tidak hanya menjadi cerita tentang kemurahan hati seorang pengusaha atau keberhasilan sebuah kelompok usaha membangun rumah ibadah.

Kisah ini juga dapat menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pembangunan yang berkeadilan harus menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari pusat perhatian.

Para pengusaha dapat berkontribusi melalui program sosial yang sesuai dengan kemampuan dan bidang usahanya. Pemerintah dapat memperkuat pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur. Sementara itu, masyarakat dapat menjaga fasilitas yang telah tersedia serta mengembangkan kegiatan produktif yang bermanfaat bagi lingkungan mereka.

Kolaborasi tersebut perlu dibangun secara sehat, tanpa menghilangkan tanggung jawab masing-masing pihak.

Dari sisi keagamaan, kemegahan masjid sebaiknya diiringi dengan kemajuan akhlak dan kepedulian umat. Bangunan yang indah akan kehilangan sebagian maknanya apabila tidak diikuti dengan kegiatan ibadah, pendidikan, dan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Sebaliknya, masjid yang dimakmurkan dengan kegiatan positif dapat menjadi kekuatan sosial yang menyatukan warga dalam semangat persaudaraan.

Ukuran keberhasilan pembangunan masjid bukan hanya seberapa besar kubahnya, seberapa luas bangunannya, atau seberapa megah tampilan arsitekturnya. Ukuran yang tidak kalah penting adalah seberapa banyak masyarakat memperoleh manfaat, seberapa kuat hubungan sosial yang tumbuh, dan seberapa besar peran masjid dalam membina generasi penerus.

Dalam konteks tersebut, harapan agar Masjid Al Gandara menjadi pusat peradaban merupakan cita-cita yang perlu diwujudkan melalui kerja bersama.

Pengurus DKM, tokoh agama, orang tua, pemuda, dan seluruh jamaah mempunyai peran penting dalam menjaga agar masjid tetap menjadi tempat yang hidup dan memberikan manfaat nyata.

Sementara itu, para dermawan yang telah membantu pembangunan layak mendapatkan apresiasi atas kontribusi yang diberikan. Semoga kebaikan tersebut menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk berbagi sesuai kemampuan masing-masing.

Kebaikan tidak selalu harus diwujudkan dalam pembangunan bangunan besar. Membantu tetangga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak-anak, memperhatikan warga lanjut usia, serta menjaga kerukunan di lingkungan sekitar juga merupakan bagian dari kepedulian sosial yang bernilai.

Dengan demikian, semangat yang lahir dari pembangunan dua masjid di pelosok Pangandaran dapat berkembang menjadi gerakan kebaikan yang lebih luas.

PENUTUP: DARI AIR MATA SYUKUR MENUJU HARAPAN MASA DEPAN

Kisah pembangunan dan peresmian Masjid Al Gandara di Dusun Cibuluh 2 dan Dusun Sindangkasih menjadi catatan tentang pertemuan antara kepedulian, perjuangan, dan harapan.

Di tengah medan yang menantang, H. Nuryadin bersama H. Cahya Gandara dan Gandara Group37 hadir untuk membantu mewujudkan kebutuhan masyarakat terhadap sarana ibadah yang lebih representatif.

Sambutan hangat warga, lantunan sholawat, tabuhan rebana, serta air mata haru Ajengan Sopiudin menjadi gambaran bahwa bantuan tersebut memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Apresiasi Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, H. Asep Nurdin, terhadap kontribusi pihak swasta juga memperlihatkan pentingnya kerja sama berbagai unsur dalam mendukung pembangunan daerah.

Ditambah pembagian ratusan paket sembako, kegiatan tersebut menghadirkan perpaduan antara pembangunan sarana keagamaan dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.

Kini, setelah masjid berdiri, harapan besar berada di tangan masyarakat untuk menjaga, merawat, dan memakmurkannya. Bangunan tersebut diharapkan menjadi tempat lahirnya generasi yang berakhlak baik, tumbuhnya semangat belajar, kuatnya persaudaraan, serta berkembangnya kepedulian terhadap sesama.

Semoga langkah H. Nuryadin, H. Cahya Gandara, Gandara Group37, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak gerakan sosial yang menjangkau wilayah pelosok Nusantara.

Sebab, kemuliaan sebuah kebaikan tidak hanya terletak pada apa yang dibangun hari ini, tetapi juga pada manfaat yang terus hidup dan dirasakan oleh generasi mendatang.

Di pelosok Pangandaran, dua masjid telah menjadi saksi bahwa harapan dapat tumbuh di tengah keterbatasan. Dari jalan pegunungan yang berliku, lahir sebuah pesan sederhana namun mendalam: ketika kepedulian diwujudkan melalui tindakan nyata, jarak tidak lagi menjadi penghalang untuk berbagi kebaikan.

Semoga masjid-masjid tersebut senantiasa makmur, menjadi sumber ilmu dan persaudaraan, serta membawa keberkahan bagi masyarakat Pangandaran dan umat Islam pada umumnya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.


Editor: CEVI SUPRIATNA, S.H.

Zona TV Nasional
Portal Berita Resmi: www.zonatvnasional.com
Akurat Mengungkap Fakta


Lebih baru Lebih lama