NASIONAL
JAKARTA, ZONA TV NASIONAL — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Indonesia. Selain mengancam lingkungan dan kualitas udara, kabut asap yang ditimbulkan mulai mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk proses pendidikan di sejumlah wilayah.
Hingga 2 September 2026, sekitar 1,43 juta siswa dari 12.874 sekolah di enam provinsi terpaksa mengikuti pembelajaran secara daring akibat kualitas udara yang memburuk. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah perlindungan terhadap siswa di wilayah yang terdampak kabut asap karhutla.
Enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas penanganan meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Data Kementerian Pendidikan yang dikutip Reuters menyebutkan, Kalimantan Barat menjadi daerah dengan jumlah siswa terdampak terbesar, yakni sekitar 1,1 juta siswa. Pembelajaran jarak jauh diberlakukan mulai 31 Agustus hingga 4 September 2026 dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara.
Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Memburuk
Persoalan semakin serius ketika kualitas udara di sejumlah kawasan Kalimantan berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Data Kementerian Kehutanan yang dikutip Reuters menunjukkan, sejumlah wilayah Kalimantan mencatat indeks pencemaran udara di atas 200. Bahkan, kawasan Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat, sempat mencatat angka 1.023.
Dalam sistem klasifikasi kualitas udara Indonesia, angka di atas 300 masuk kategori berbahaya. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi siswa dari paparan kabut asap.
805 Hotspot Terdeteksi
Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa berdasarkan sistem pemantauan SiPongi yang bersumber dari sejumlah satelit, terdapat 805 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh Indonesia pada Rabu, 2 September 2026 pukul 21.31 WIB.
Meski demikian, pemerintah mencatat perkembangan positif di Sumatera. Provinsi Riau dilaporkan berada dalam kondisi zero hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Pemerintah masih memperkuat operasi pengendalian karhutla, terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah yang masih mengalami konsentrasi titik panas. Operasi Modifikasi Cuaca juga terus dioptimalkan pada wilayah yang memenuhi persyaratan meteorologis.
Kabut Asap Ganggu Transportasi Udara
Dampak karhutla juga mulai dirasakan pada sektor transportasi. Kementerian Kehutanan menyatakan pemantauan dilakukan secara terpadu terhadap titik panas, kondisi kebakaran, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, hingga jarak pandang.
Di sejumlah wilayah Kalimantan, kabut asap bahkan menyebabkan jarak pandang menurun secara signifikan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keselamatan dan operasional penerbangan.
Kementerian Perhubungan sebelumnya juga melaporkan adanya penerbangan yang mengalami pembatalan akibat jarak pandang berada di bawah batas minimum keselamatan penerbangan.
El Niño Menambah Tantangan
Menteri Kehutanan memperingatkan bahwa upaya mengendalikan kebakaran berpotensi menghadapi tantangan lebih besar karena fenomena El Niño diperkirakan mencapai puncaknya pada September.
Cuaca yang lebih panas dan kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran sekaligus mempercepat penyebaran api. Pemerintah juga menilai faktor aktivitas manusia menjadi salah satu unsur penting dalam terjadinya karhutla.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Pencegahan, pengawasan kawasan rawan, pengelolaan lahan gambut, penegakan hukum serta kesiapsiagaan pemerintah daerah perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Dampak Meluas ke Kehidupan Masyarakat
Karhutla kini bukan semata persoalan lingkungan. Ketika kualitas udara memaksa jutaan siswa meninggalkan sementara pembelajaran tatap muka, mengganggu transportasi udara, dan menurunkan kualitas hidup masyarakat, persoalan tersebut telah berkembang menjadi isu sosial dan nasional.
Pemerintah dituntut memastikan penanganan dilakukan secara cepat sekaligus terukur, dengan mengutamakan keselamatan masyarakat dan mencegah meluasnya dampak kebakaran.
Zona TV Nasional akan terus memantau perkembangan karhutla, kondisi kualitas udara, serta langkah pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.
Redaksi Zona TV Nasional
Jumat, 4 September 2026
