MAULID NABI BESAR MUHAMMAD SAW 1448 H / 2026 M
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil ‘Alamin.
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, nikmat, serta karunia-Nya, saya Tatang Ruslih, S.H., Dewan Penasehat Redaksi Pusat Zona TV Nasional, menyampaikan Selamat Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 12 Rabi’ul Awal 1448 H / 2026 M kepada seluruh umat Islam, khususnya masyarakat Indonesia.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran seorang manusia agung. Lebih dari itu, Maulid merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk kembali membuka ruang perenungan tentang keteladanan Rasulullah SAW, terutama bagaimana beliau membangun kehidupan yang berlandaskan kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, kesabaran, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, pesan-pesan keteladanan Rasulullah SAW justru terasa semakin relevan. Dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari derasnya arus informasi, maraknya berita palsu atau hoaks, provokasi, ujaran kebencian, polarisasi sosial, hingga menurunnya kualitas komunikasi di ruang publik.
Karena itu, Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada seremoni dan perayaan, tetapi mampu menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan menerjemahkan nilai-nilai kenabian ke dalam kehidupan nyata.
SEJARAH SINGKAT KELAHIRAN RASULULLAH SAW
Nabi Muhammad SAW merupakan Rasul terakhir yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia.
Dalam tradisi peringatan Maulid yang berkembang luas di masyarakat, kelahiran Rasulullah SAW dikenang pada 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah di Kota Makkah. Beliau lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab.
Kelahiran Rasulullah SAW menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah umat manusia. Beliau tumbuh sebagai seorang anak yatim setelah wafatnya sang ayah sebelum kelahirannya, kemudian kehilangan ibunda tercinta ketika masih dalam usia muda.
Berbagai ujian kehidupan tersebut tidak menjadikan beliau tumbuh menjadi pribadi yang keras dan penuh dendam. Sebaliknya, Rasulullah SAW tumbuh sebagai sosok yang dikenal memiliki akhlak mulia, penyayang, sabar, rendah hati, dan dapat dipercaya.
Jauh sebelum menerima wahyu dan diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal masyarakat Makkah sebagai pribadi yang jujur dan amanah. Gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya, menjadi gambaran kuat mengenai integritas beliau.
Dari kehidupan Rasulullah SAW, umat Islam mendapatkan pelajaran bahwa kemuliaan seseorang bukan hanya ditentukan oleh kedudukan, kekayaan, maupun kekuasaan, tetapi terutama oleh akhlak dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
MAULID SEBAGAI MOMENTUM MEMPERBAIKI AKHLAK
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kita telah meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari?
Meneladani Rasulullah bukan hanya melalui banyaknya ucapan tentang kecintaan kepada beliau. Kecintaan kepada Rasulullah harus tercermin dalam perilaku.
Kejujuran harus menjadi bagian dari kehidupan. Amanah harus dijaga. Janji harus ditepati. Hak orang lain harus dihormati. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kasih sayang. Beliau tidak hanya memperhatikan orang-orang yang dekat dengannya, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat, kaum lemah, anak yatim, fakir miskin, dan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Dalam konteks kehidupan modern, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial, gotong royong, saling membantu, serta membangun lingkungan masyarakat yang lebih toleran dan berkeadaban.
EMPAT HIKMAH PENTING MEMPERINGATI MAULID NABI
Pertama, Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
Maulid menjadi momentum untuk kembali mengingat akhlak Rasulullah SAW, terutama kejujuran, amanah, kesabaran, keberanian menyampaikan kebenaran, kebijaksanaan, dan kasih sayang.
Keteladanan tersebut sangat penting diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan masyarakat, dunia pekerjaan, organisasi, pemerintahan, hingga ruang digital.
Kedua, Mempererat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial
Peringatan Maulid biasanya menjadi ruang pertemuan masyarakat. Di dalamnya terdapat pengajian, shalawat, doa, silaturahmi, serta berbagai kegiatan sosial.
Momentum tersebut hendaknya menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan menghilangkan sekat-sekat yang selama ini mungkin muncul akibat perbedaan pilihan, kepentingan, maupun pandangan.
Persaudaraan tidak berarti harus selalu memiliki pandangan yang sama. Persaudaraan berarti mampu menghargai perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat dan kemanusiaan.
Ketiga, Menghidupkan Pesan Islam sebagai Rahmat bagi Semesta
Rasulullah SAW membawa risalah Islam yang mengajarkan kedamaian, keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Karena itu, semangat Maulid harus mampu menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Tidak cukup hanya berbicara tentang kebaikan. Kebaikan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Membantu orang yang kesulitan, menjaga lingkungan, menghormati tetangga, menghindari fitnah, tidak menyebarkan kebencian, serta menjaga persatuan merupakan bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai kebaikan tersebut dalam kehidupan.
Keempat, Memperkuat Iman dan Kecintaan kepada Rasulullah SAW
Shalawat, kajian keislaman, pembacaan sejarah kehidupan Nabi, dan berbagai kegiatan Maulid dapat menjadi sarana memperkuat kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.
Namun kecintaan tersebut idealnya tidak hanya berhenti pada ucapan. Ia harus diterjemahkan menjadi karakter dan perilaku.
Semakin seseorang mengenal kehidupan Rasulullah SAW, semakin besar pula kesempatan untuk memahami bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan manusia dengan sesama.
PESAN MAULID UNTUK INSAN MEDIA
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga memiliki pesan yang sangat penting bagi dunia jurnalistik dan media massa.
Di tengah derasnya arus informasi digital, media memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara masyarakat memahami sebuah peristiwa.
Satu berita dapat membangun pemahaman. Tetapi satu informasi yang keliru juga dapat menimbulkan kesalahpahaman, keresahan, bahkan konflik di tengah masyarakat.
Karena itu, nilai-nilai kenabian sangat relevan untuk dijadikan pedoman moral dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Kejujuran harus menjadi dasar dalam menyampaikan informasi.
Amanah harus menjadi prinsip dalam menjaga kepercayaan publik.
Keadilan harus diwujudkan melalui pemberitaan yang berimbang.
Kebijaksanaan harus hadir ketika menentukan sudut pandang pemberitaan.
Dan yang tidak kalah penting, media harus memiliki keberanian untuk menyampaikan fakta dengan tetap menjunjung tinggi etika, hukum, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Media jangan sampai hanya mengejar kecepatan dan jumlah pembaca, tetapi mengabaikan akurasi dan dampak sosial dari sebuah pemberitaan.
Di era media sosial, setiap orang memang dapat menjadi penyebar informasi. Namun kemampuan menyebarkan informasi harus disertai tanggung jawab moral.
Sebelum membagikan sebuah informasi, masyarakat perlu bertanya: apakah informasi tersebut benar? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah informasi itu memberikan manfaat? Apakah penyebarannya berpotensi merugikan atau memfitnah orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut menjadi semakin penting di tengah fenomena banjir informasi.
MEDIA SEBAGAI JEMBATAN PENCERAHAN
Media idealnya tidak menjadi bagian dari persoalan, melainkan menjadi jembatan untuk membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih objektif.
Media harus mampu menjadi ruang edukasi, kontrol sosial, sekaligus sarana memperkuat persatuan.
Dalam konteks tersebut, semangat Rasulullah SAW dalam menyampaikan kebenaran dengan penuh kebijaksanaan dapat menjadi inspirasi bagi insan pers.
Kebenaran tetap harus disampaikan, tetapi cara menyampaikannya harus mempertimbangkan etika, kepatutan, kepentingan publik, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Kritik tetap diperlukan dalam demokrasi. Namun kritik hendaknya dibangun berdasarkan fakta, bukan kebencian.
Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan. Namun perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan rasa persaudaraan.
Media juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan ruang kepada berbagai pihak agar publik dapat memperoleh informasi secara utuh dan tidak terjebak pada satu sudut pandang semata.
JANGAN BIARKAN HOAKS MENGALAHKAN KEBENARAN
Salah satu tantangan terbesar masyarakat saat ini adalah penyebaran hoaks.
Informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Judul yang provokatif dapat menarik perhatian jauh lebih cepat dibandingkan informasi yang disusun secara hati-hati.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi seluruh elemen masyarakat, terutama insan media.
Nilai tabayyun, atau memeriksa dan memastikan kebenaran informasi, menjadi semakin penting.
Jangan sampai teknologi yang seharusnya digunakan untuk menyebarkan pengetahuan justru menjadi sarana memperluas fitnah.
Semangat Maulid Nabi harus mendorong kita untuk membangun budaya informasi yang sehat: cek fakta, verifikasi sumber, hindari provokasi, dan utamakan kepentingan masyarakat.
MENJADI PRIBADI YANG MEMBERIKAN MANFAAT
Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar tentang mengenang masa lalu.
Maulid merupakan ajakan untuk memperbaiki masa kini dan membangun masa depan.
Setiap orang memiliki ruang untuk meneladani Rasulullah SAW sesuai dengan perannya masing-masing.
Pemimpin dapat meneladani keadilan dan amanah Rasulullah.
Orang tua dapat meneladani kasih sayang beliau dalam mendidik keluarga.
Guru dapat meneladani kesabaran dan kebijaksanaan beliau dalam mendidik umat.
Pelaku usaha dapat meneladani kejujuran dalam berdagang.
Insan pers dapat meneladani kejujuran dan amanah dalam menyampaikan informasi.
Sementara masyarakat dapat meneladani semangat persaudaraan, kepedulian, dan gotong royong.
Dengan demikian, nilai Maulid tidak berhenti di masjid, majelis taklim, atau panggung peringatan. Nilai tersebut harus dibawa ke rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, organisasi, dan ruang digital.
Mari menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sebagai momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki akhlak, mempererat silaturahmi, menjaga persatuan, serta memperbanyak amal yang memberikan manfaat bagi sesama.
Semoga kita semua mampu meneladani akhlak Rasulullah SAW dan menjadikan beliau sebagai inspirasi dalam membangun kehidupan yang lebih damai, adil, santun, dan penuh kasih sayang.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, keberkahan, kesehatan, serta kekuatan kepada kita semua dalam menjalankan kehidupan sesuai tuntunan-Nya.
Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Ali Sayyidina Muhammad.
Selamat Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 12 Rabi’ul Awal 1448 H / 2026 M.
Mari memperbanyak shalawat, memperbaiki akhlak, menjaga persaudaraan, dan menebarkan kebaikan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Karawang, 24 Agustus 2026
TATANG RUSLIH, S.H.
Dewan Penasehat Redaksi Pusat
ZONA TV NASIONAL