KKN UMTAS Tanjung B Hadirkan Edukasi HEPI, Ruang Aman Bertumbuh Nyaman, dan PENTAS untuk Membentuk Generasi yang Kenal Diri, Peduli Sesama, dan Siap Bertumbuh

 



Penguatan Karakter dan Perkembangan Diri Peserta Didik melalui Edukasi Emosi, Pencegahan Bullying, dan Pubertas


TASIKMALAYA — Pendidikan tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca, berhitung, menguasai ilmu pengetahuan, maupun mencapai prestasi akademik. Di balik proses pendidikan yang ideal, terdapat aspek yang tidak kalah penting, yakni bagaimana peserta didik mampu mengenali dirinya sendiri, memahami perasaan, membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, menjaga diri, serta menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupannya.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu pijakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) melalui Kelompok KKN Tanjung B dalam melaksanakan rangkaian program pengabdian kepada masyarakat di wilayah Kelurahan Tanjung, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya.

Melalui rangkaian kegiatan edukasi yang menyasar peserta didik pada tiga satuan pendidikan, yakni SDN 01 Tanjung, MI Tanjung, dan MTs Tanjung, mahasiswa KKN menghadirkan program yang menitikberatkan pada penguatan karakter dan perkembangan diri peserta didik.

Tiga isu utama menjadi perhatian, yaitu pengenalan dan pengelolaan emosi, pencegahan bullying, serta pengenalan pubertas.

Ketiganya dipandang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan peserta didik. Anak yang mampu mengenali emosinya akan lebih mudah belajar mengendalikan respons ketika menghadapi masalah. Anak yang memahami bullying akan memiliki keberanian untuk menolak perundungan sekaligus membangun kepedulian terhadap teman. Sementara peserta didik yang mendapatkan pengetahuan mengenai pubertas akan memiliki bekal untuk memahami perubahan dirinya secara lebih sehat, positif, dan bertanggung jawab.

Berangkat dari Observasi Kebutuhan Peserta Didik

Rangkaian program tidak dilakukan secara tiba-tiba. Kelompok KKN Tanjung B terlebih dahulu melaksanakan observasi dan identifikasi kebutuhan di sejumlah satuan pendidikan di wilayah Kelurahan Tanjung.

Observasi dilakukan di SDN 01 Tanjung, MI Tanjung, dan MTs Tanjung dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan pendidikan, karakteristik peserta didik, jenjang usia, serta kebutuhan perkembangan masing-masing kelompok.

Langkah tersebut menjadi penting karena kebutuhan seorang siswa sekolah dasar tentu berbeda dengan kebutuhan peserta didik madrasah tingkat tsanawiyah. Anak usia sekolah dasar membutuhkan pendekatan yang sederhana, visual, menyenangkan, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari. Sementara peserta didik yang mulai memasuki masa remaja membutuhkan ruang edukasi yang lebih terbuka untuk memahami perubahan fisik, emosional, sosial, serta cara menjaga diri.

Dari proses tersebut, Kelompok KKN Tanjung B kemudian menyusun program yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong peserta didik untuk aktif berdiskusi, berefleksi, bermain, mengenali pengalaman diri, dan mempraktikkan cara sederhana menghadapi situasi tertentu.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa edukasi karakter akan lebih bermakna ketika peserta didik tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian aktif dalam proses pembelajaran.

HEPI: Mengajarkan Anak Mengenali Perasaannya

Program pertama dilaksanakan di SDN 01 Tanjung pada 28 Juli 2026 melalui kegiatan bertajuk “HEPI (Hebat Mengenali Perasaan Diri)”.

Program tersebut menyasar siswa kelas I hingga VI dengan jumlah peserta mencapai 345 siswa.

HEPI dirancang sebagai media edukasi bagi anak untuk mengenali berbagai emosi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Materi tidak berhenti pada pengenalan nama-nama emosi, tetapi juga diarahkan agar siswa memahami bahwa setiap perasaan memiliki penyebab dan respons yang perlu dikelola dengan tepat.

Perasaan senang, sedih, marah, takut, dan berbagai emosi lainnya merupakan bagian dari kehidupan anak. Persoalannya bukan bagaimana menghilangkan emosi tersebut, melainkan bagaimana anak mampu mengenalinya dan belajar memberikan respons yang tepat.

Karena itu, mahasiswa KKN menggunakan pendekatan yang dekat dengan dunia anak. Materi disampaikan melalui media visual dan video edukatif mengenai jenis-jenis emosi, kemudian dikaitkan dengan situasi yang mungkin mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.

Siswa diajak memahami bahwa bermain bersama teman dapat menimbulkan rasa senang, kehilangan atau rusaknya benda kesayangan dapat menimbulkan kesedihan, gangguan dari teman dapat memunculkan kemarahan, sedangkan suara petir atau situasi tertentu dapat menimbulkan rasa takut.

Dengan cara tersebut, konsep yang terkadang terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami.

Hasil Evaluasi HEPI: Pengetahuan Dasar Sudah Dimiliki Siswa

Evaluasi terhadap kegiatan HEPI menunjukkan hasil yang menarik.

Pada tahap pretest, sebanyak 345 siswa atau 100 persen memberikan jawaban positif pada seluruh pernyataan yang diberikan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta didik telah memiliki pengetahuan dasar mengenai emosi.

Mereka pada dasarnya sudah mengenal situasi ketika merasa marah, sedih, maupun takut. Mereka juga telah memiliki pemahaman mengenai penyebab munculnya perasaan tertentu serta mengetahui cara sederhana untuk menenangkan diri ketika marah.

Setelah mendapatkan edukasi, hasil posttest kembali menunjukkan angka 345 siswa atau 100 persen mampu mengenali contoh perasaan yang berkaitan dengan emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, kegiatan HEPI tidak menunjukkan peningkatan secara kuantitatif karena capaian awal dan akhir sama-sama berada pada angka 100 persen.

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti kegiatan tidak memberikan manfaat.

Sebaliknya, hasil tersebut dapat dibaca sebagai indikasi bahwa peserta didik telah memiliki modal pengetahuan yang baik sebelum mendapatkan intervensi edukasi. Kehadiran mahasiswa KKN kemudian berfungsi memperkuat pengetahuan tersebut, mengingatkan kembali konsep yang sudah dimiliki, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan kontekstual.

Dalam pendidikan, peningkatan tidak selalu harus terlihat dalam bentuk angka. Penguatan pemahaman, keberanian mengungkapkan perasaan, kemampuan menghubungkan materi dengan pengalaman pribadi, serta terciptanya suasana belajar yang positif juga merupakan bagian penting dari proses perkembangan anak.

“Ruang Aman, Bertumbuh Nyaman”: Sekolah Harus Menjadi Tempat yang Aman

Setelah mengangkat isu pengenalan emosi di sekolah dasar, Kelompok KKN Tanjung B melanjutkan program edukasi di MI Tanjung pada 29 Juli 2026.

Program tersebut mengangkat tema “Ruang Aman, Bertumbuh Nyaman” dengan fokus pada edukasi pencegahan bullying.

Sebanyak 172 peserta didik kelas I hingga VI mengikuti kegiatan tersebut.

Bullying menjadi isu yang penting mendapatkan perhatian karena perundungan tidak hanya berkaitan dengan tindakan fisik. Dalam kehidupan anak-anak, perundungan dapat muncul melalui perkataan, ejekan, penghinaan, pengucilan, intimidasi, maupun tindakan lain yang membuat seseorang merasa tertekan dan tidak aman.

Karena itu, edukasi yang diberikan tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk mengenali bullying, tetapi juga membantu mereka memahami dampaknya terhadap korban, lingkungan pertemanan, dan suasana sekolah secara keseluruhan.

Kegiatan dikemas secara interaktif melalui presentasi, video edukatif, diskusi, tanya jawab, permainan, sesi refleksi, hingga praktik Butterfly Hug sebagai salah satu bentuk latihan sederhana untuk membantu menenangkan diri.

Pendekatan tersebut memberikan pesan bahwa menciptakan lingkungan aman bukan hanya menjadi tanggung jawab guru atau pihak sekolah.

Peserta didik juga memiliki peran.

Ketika melihat temannya dirundung, misalnya, seorang siswa dapat memilih untuk tidak ikut menertawakan, tidak memperkuat perilaku perundungan, memberikan dukungan kepada korban, serta melaporkan kepada orang dewasa yang dipercaya apabila situasi membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pemahaman Bullying Mengalami Peningkatan

Hasil evaluasi program “Ruang Aman, Bertumbuh Nyaman” memperlihatkan adanya peningkatan pemahaman peserta didik.

Rata-rata jawaban benar pada tahap pretest berada di angka 95,9 persen, kemudian meningkat menjadi 100 persen pada posttest.

Artinya terdapat peningkatan sebesar 4,1 persen setelah peserta didik mengikuti rangkaian edukasi.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa metode penyampaian materi yang memadukan penjelasan, video, permainan, diskusi, refleksi, dan praktik dapat membantu memperkuat pemahaman peserta didik.

Namun, lebih jauh dari angka tersebut, terdapat pesan yang lebih penting, yaitu bagaimana pengetahuan mengenai bullying dapat diterjemahkan menjadi budaya sekolah yang lebih sehat.

Sekolah seharusnya menjadi ruang bagi anak untuk bertumbuh tanpa rasa takut. Anak harus merasa aman untuk belajar, bertanya, bermain, berpendapat, dan berinteraksi.

Ketika lingkungan sekolah mampu menciptakan rasa aman, proses pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk individu yang mampu menghargai sesama.

PENTAS: Membekali Remaja Menghadapi Masa Pubertas

Program ketiga dilaksanakan di MTs Tanjung pada 31 Juli 2026 melalui program “PENTAS (Pengenalan Pubertas)”.

Program ini menyasar peserta didik yang berada pada fase perkembangan menuju masa remaja.

Pubertas merupakan salah satu tahapan penting dalam kehidupan manusia. Pada masa ini, seseorang mengalami berbagai perubahan yang meliputi aspek fisik maupun emosional.

Perubahan tersebut terkadang menimbulkan kebingungan bagi peserta didik apabila tidak mendapatkan informasi yang tepat. Karena itu, pendidikan mengenai pubertas menjadi bagian penting dalam membantu remaja memahami dirinya.

Melalui PENTAS, mahasiswa KKN memberikan edukasi mengenai perubahan yang terjadi selama masa pubertas dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan peserta didik.

Peserta didik diarahkan untuk memahami bahwa perubahan tubuh dan emosi merupakan bagian dari proses perkembangan manusia.

Lebih jauh, edukasi tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kebersihan diri, menghargai tubuh sendiri, menjaga batasan pribadi, serta memiliki sikap bertanggung jawab terhadap perubahan yang mereka alami.

Pada tahap inilah pendidikan bukan hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga membantu peserta didik membangun kepercayaan diri.

Seorang remaja yang memahami proses perkembangan dirinya akan lebih siap menghadapi perubahan tanpa merasa malu, takut, atau bingung secara berlebihan.

Tiga Program, Satu Tujuan Besar

Jika dilihat secara keseluruhan, HEPI, Ruang Aman Bertumbuh Nyaman, dan PENTAS memiliki tema yang berbeda, tetapi berada dalam satu garis besar yang sama.

Ketiganya berbicara mengenai manusia dan proses mengenali dirinya.

HEPI membantu anak mengenali perasaan.

Ruang Aman Bertumbuh Nyaman membantu peserta didik memahami pentingnya menghargai orang lain dan menciptakan lingkungan sosial yang sehat.

Sementara PENTAS membantu remaja memahami perubahan dirinya dan mempersiapkan diri memasuki fase perkembangan berikutnya.

Ketiganya menjadi rangkaian edukasi yang saling melengkapi.

Anak yang mampu mengenali emosinya akan memiliki bekal untuk berinteraksi dengan orang lain. Anak yang memahami pentingnya menghargai sesama akan lebih mampu membangun hubungan sosial yang sehat. Sedangkan remaja yang memahami perkembangan dirinya akan lebih siap menghadapi perubahan dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Pendidikan Karakter Tidak Cukup Hanya dengan Nasihat

Dari rangkaian kegiatan tersebut, terdapat satu pelajaran penting bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui nasihat.

Anak membutuhkan contoh, pengalaman, ruang dialog, serta kesempatan untuk mempraktikkan apa yang dipelajari.

Ketika berbicara tentang emosi, anak perlu diberi kesempatan menyebutkan perasaan yang sedang dialaminya.

Ketika berbicara tentang bullying, anak perlu diajak memahami bagaimana rasanya berada di posisi korban maupun saksi.

Ketika berbicara tentang pubertas, remaja membutuhkan informasi yang benar dan ruang belajar yang aman agar tidak mencari jawaban dari sumber yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, pendekatan interaktif yang dilakukan mahasiswa KKN Tanjung B menjadi relevan dalam membangun pengalaman belajar.

Media visual, video, permainan, diskusi, tanya jawab, refleksi, hingga praktik sederhana membuat materi tidak terasa sebagai ceramah satu arah.

Membangun Generasi yang Kenal Diri

Penguatan karakter pada akhirnya berangkat dari kemampuan seseorang untuk mengenali dirinya.

Anak yang mengenal emosinya akan lebih mudah memahami apa yang sedang dirasakan.

Anak yang mampu memahami perasaan orang lain akan lebih mudah membangun empati.

Remaja yang memahami perubahan dirinya akan lebih siap menjaga diri.

Dan lingkungan sekolah yang memiliki budaya saling menghargai akan menjadi ruang yang lebih sehat bagi seluruh peserta didik.

Karena itu, kegiatan KKN tidak semestinya hanya dipandang sebagai aktivitas mahasiswa di tengah masyarakat dalam waktu tertentu. Program yang dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat dapat menjadi pemantik bagi keberlanjutan gerakan pendidikan di lingkungan sekolah.

Mahasiswa hadir membawa pengetahuan, kreativitas, dan energi generasi muda. Sekolah memiliki guru dan tenaga pendidik yang mendampingi peserta didik setiap hari. Sementara orang tua memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan dan karakter anak di lingkungan keluarga.

Ketika ketiga unsur tersebut saling mendukung, pendidikan karakter akan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat.

Antusiasme Peserta Didik Menjadi Modal Penting

Antusiasme peserta didik terlihat dalam setiap rangkaian kegiatan. Penyampaian materi yang menggunakan media visual, video, permainan, diskusi, praktik, dan refleksi membuat peserta didik tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran.

Keterlibatan tersebut penting karena pendidikan yang menyentuh pengalaman peserta didik cenderung lebih mudah dipahami dan diingat.

Kegiatan juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memahami kondisi nyata masyarakat, khususnya dunia pendidikan di tingkat lokal.

KKN pada akhirnya menjadi proses pembelajaran dua arah. Mahasiswa memberikan edukasi, tetapi pada saat yang sama mahasiswa juga mendapatkan pengalaman berharga mengenai kebutuhan anak, dinamika sekolah, komunikasi dengan peserta didik, serta pentingnya menyusun program berdasarkan kebutuhan lapangan.

Diharapkan Tidak Berhenti Setelah KKN Berakhir

Program edukasi yang telah dilakukan diharapkan tidak berhenti ketika rangkaian KKN selesai.

Pengetahuan mengenai emosi dapat terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan mengenai pencegahan bullying dapat dikembangkan menjadi budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.

Sementara edukasi pubertas dapat menjadi pintu masuk bagi komunikasi yang lebih terbuka antara peserta didik, guru, dan orang tua mengenai perkembangan remaja.

Keberlanjutan tersebut menjadi penting karena pembentukan karakter bukanlah proses satu atau dua hari.

Karakter dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan berulang, lingkungan yang mendukung, teladan dari orang dewasa, serta komunikasi yang konsisten.

Dengan demikian, kegiatan KKN dapat menjadi pemantik awal yang kemudian diteruskan oleh sekolah dan keluarga sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik.

UMTAS Mengabdi, KKN Tanjung B Beraksi

Melalui rangkaian HEPI, Ruang Aman Bertumbuh Nyaman, dan PENTAS, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya bersama Kelompok KKN Tanjung B menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan melalui program pendidikan yang dekat dengan kebutuhan generasi muda.

Program tersebut bukan semata-mata tentang penyampaian materi, melainkan tentang membangun kesadaran.

Kesadaran bahwa setiap emosi perlu dikenali dan dikelola.

Kesadaran bahwa setiap anak berhak mendapatkan lingkungan yang aman.

Kesadaran bahwa bullying bukan candaan yang dapat dibiarkan.

Kesadaran bahwa masa pubertas merupakan proses perkembangan yang harus dipahami secara positif dan bertanggung jawab.

Dan yang tidak kalah penting, kesadaran bahwa setiap peserta didik memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, peduli, menghargai orang lain, serta mampu mengambil keputusan dengan bijaksana.

Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan anak yang mengetahui banyak hal, tetapi juga anak yang mampu memahami dirinya, menghargai orang lain, menjaga dirinya, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Rangkaian kegiatan KKN Tanjung B diharapkan menjadi bagian kecil dari proses panjang tersebut.

UMTAS Mengabdi, KKN Tanjung B Beraksi, Bersama Membangun Generasi yang Kenal Diri, Peduli Sesama, dan Siap Bertumbuh.

Tasikmalaya, 23 Agustus 2026

Penerbit: www.zonatvnasional.com
Kontak: 085-724-7777-54
Edisi: Agustus 2026


Lebih baru Lebih lama