ZonaTV, Ambon, Maluku
Ramadan 1447 Hijriah di Kota Ambon tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah, tetapi juga sebagai momentum penguatan ekonomi dan kreativitas masyarakat. Melalui Festival Ramadan 2026 yang digelar di area parkir Zest Hotel Ambon bersama Swiss-Belhotel Ambon, sektor perhotelan hadir lebih dekat dengan masyarakat dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Berbeda dari kegiatan Ramadan pada umumnya, festival ini memosisikan hotel bukan sekadar penyedia layanan akomodasi, melainkan sebagai ruang publik alternatif yang terbuka bagi UMKM, komunitas seni, hingga generasi muda. Area hotel disulap menjadi pusat bazar kuliner, panggung hiburan religi, serta lokasi buka puasa bersama dengan harga yang diklaim lebih terjangkau dan ramah bagi berbagai kalangan.
Sekretaris Kota Ambon, Robby Sapulette, saat membacakan sambutan Wali Kota Ambon, menegaskan bahwa Ramadan harus dimaknai sebagai gerakan kolektif—bukan hanya penguatan spiritual, tetapi juga penguatan ekonomi rakyat. Pemerintah Kota Ambon memandang keterlibatan sektor swasta dalam festival ini sebagai bentuk kolaborasi konkret yang berdampak langsung terhadap perputaran uang di tingkat lokal.
“Momentum Ramadan adalah kesempatan memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Kolaborasi seperti ini menjadi contoh nyata sinergi antara pemerintah, swasta, dan pelaku UMKM,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Dari sisi ekonomi, festival yang berlangsung selama satu bulan penuh ini membuka ruang promosi dan transaksi bagi UMKM lokal. Para pelaku usaha tidak hanya memasarkan produk kuliner dan kerajinan, tetapi juga membangun jejaring pasar baru melalui interaksi dengan tamu hotel dan masyarakat umum. Kehadiran pengunjung dari berbagai latar belakang diharapkan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi pelaku usaha kecil.
Cluster General Manager Swiss-Belhotel dan Zest Ambon, Yudi Medianto, menjelaskan bahwa konsep festival dirancang untuk memberikan manfaat ganda. Selain mendukung UMKM, kegiatan ini juga menjadi strategi memperluas segmentasi pasar hotel selama Ramadan serta memperkuat citra industri perhotelan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah.
“Kami ingin hotel menjadi ruang yang inklusif dan memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Tak hanya aspek ekonomi, festival ini juga memberi ruang ekspresi bagi generasi muda. Beragam kegiatan seperti lomba pop religi, fashion show busana muslim, hingga pertunjukan seni islami digelar sebagai wadah pengembangan bakat sekaligus pembinaan karakter. Pemerintah menilai aktivitas kreatif tersebut berkontribusi pada ketahanan sosial dengan mengarahkan energi anak muda pada kegiatan yang produktif dan positif.
Ketua panitia, Willy Prasetyo, menambahkan bahwa festival ini sengaja dikemas secara inklusif agar dapat diakses seluruh lapisan masyarakat. Keterlibatan komunitas dan seniman lokal diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki sekaligus memperkuat identitas budaya dalam suasana Ramadan.
Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas, Festival Ramadan 2026 di Ambon tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi model kemitraan ekonomi berbasis momentum keagamaan.
Pemerintah Kota Ambon berharap inisiatif serupa dapat direplikasi dan diperluas pada berbagai momen besar lainnya, guna menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat. (Mira)
