Bukan Solusi, Hanya Pindah Polusi: Tokoh Pemuda Bungursari Kritik Pembakaran Sampah dalam Aksi Bersih-Bersih Jalur Mangkubumi–Indihiang

 

Kota Tasikmalaya, Zona TV Nasional – Upaya Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam menjaga kebersihan dan mempercantik wajah kota mendapat apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan gotong royong dan gerakan bersih-bersih di sepanjang jalur Mangkubumi–Indihiang yang melibatkan berbagai unsur pemerintahan, komunitas, dan masyarakat.


Namun di balik semangat menjaga kebersihan lingkungan tersebut, muncul sejumlah catatan kritis terkait metode pengelolaan sampah hasil kegiatan yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip lingkungan hidup berkelanjutan.


Tokoh Pemuda Bungursari, Adi Firman Abdul Wahid, S.IP, menyampaikan bahwa niat baik pemerintah dalam menciptakan ruang publik yang bersih dan nyaman patut diapresiasi. Menurutnya, lingkungan yang bersih merupakan hak seluruh warga dan menjadi salah satu indikator kualitas hidup masyarakat perkotaan.


"Kita tentu mendukung penuh setiap gerakan kebersihan yang bertujuan memperindah kota. Kehadiran pemerintah di tengah masyarakat melalui aksi nyata seperti ini menunjukkan adanya kepedulian terhadap estetika kota dan kenyamanan ruang publik," ujar Adi Firman kepada awak media Zona TV.


Meski demikian, Adi menyoroti proses penanganan sampah yang dilakukan setelah kegiatan pembersihan berlangsung. Ia menyayangkan adanya praktik pembakaran sampah secara terbuka terhadap tumpukan sampah organik maupun anorganik yang berhasil dikumpulkan dari sepanjang jalur tersebut.


Menurutnya, tindakan tersebut justru berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan baru yang dampaknya tidak kalah serius dibandingkan sampah yang sebelumnya berserakan di lokasi kegiatan.


"Membersihkan jalur darat dengan cara mengotori jalur udara bukanlah sebuah pencapaian. Itu hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan masalah," tegasnya.


Adi menjelaskan bahwa pembakaran sampah terbuka menghasilkan asap dan partikel berbahaya yang dapat mencemari udara serta berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Asap pekat yang muncul dari proses pembakaran tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan.


Lebih jauh, ia menilai bahwa praktik pembakaran sampah massal merupakan pendekatan yang sudah tidak relevan dengan tantangan lingkungan modern. Di tengah meningkatnya kesadaran global mengenai pentingnya pengurangan emisi karbon, pengendalian pencemaran udara, dan pengelolaan sampah berkelanjutan, metode tersebut dinilai kontraproduktif terhadap berbagai upaya pelestarian lingkungan yang selama ini terus dikampanyekan.


"Kita hidup di era ketika isu perubahan iklim, kualitas udara, dan kesehatan lingkungan menjadi perhatian dunia. Karena itu, setiap program kebersihan seharusnya tidak hanya berorientasi pada hasil yang terlihat secara fisik, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat," katanya.


Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah semestinya dapat menjadi teladan dalam menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berwawasan lingkungan. Berbagai alternatif pengelolaan sampah, seperti pemilahan sejak sumbernya, pengomposan untuk sampah organik, daur ulang sampah anorganik, hingga pengangkutan terjadwal ke tempat pemrosesan akhir (TPA), dinilai lebih sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.


Menurut Adi, pendekatan tersebut tidak hanya mampu mengurangi volume sampah secara efektif, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi dan lingkungan apabila dikelola secara serius dan terintegrasi.


"Persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara-cara instan. Dibutuhkan perubahan paradigma dari sekadar membuang atau membakar menjadi mengelola dan memanfaatkan. Kota Tasikmalaya memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang lebih maju apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama," ungkapnya.


Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program kebersihan tidak cukup diukur dari bersihnya jalanan atau ruang publik sesaat setelah kegiatan berlangsung. Keberhasilan sesungguhnya, menurut dia, terletak pada kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mengelola dampak lanjutan secara bertanggung jawab tanpa menimbulkan persoalan baru.


Sebagai bentuk dukungan konstruktif, Adi berharap evaluasi terhadap metode pengelolaan sampah hasil kegiatan kebersihan dapat menjadi perhatian pemerintah ke depan. Ia menilai kritik yang disampaikan bukan untuk mengurangi nilai positif dari kegiatan tersebut, melainkan sebagai masukan agar program kebersihan dapat berjalan lebih efektif, sehat, dan ramah lingkungan.


"Kita semua ingin melihat Kota Tasikmalaya menjadi kota yang bersih, nyaman, dan sehat. Karena itu, gerakan kebersihan harus dilakukan secara cerdas dan berkelanjutan. Jangan sampai jargon yang kita bangun adalah 'Tasik Resik', tetapi yang dirasakan masyarakat justru 'Tasik Sesak' akibat polusi udara dari pembakaran sampah," pungkas Adi Firman Abdul Wahid, S.IP.


Wartawan: CEVI SUPRIATNA, S.H.

Penerbit: www.zonatvnasional.com

Lebih baru Lebih lama