Potensi besar tanaman Kelambi Duri sebagai komoditas unggulan berbasis pemberdayaan masyarakat kembali mencuat di Kota Banjar, Jawa Barat. Tanaman yang dikenal menghasilkan serat “kapas sutra” ini dinilai mampu menjadi magnet ekonomi kerakyatan sekaligus memiliki peluang ekspor yang menjanjikan, namun hingga kini belum mendapat dukungan optimal, khususnya dalam aspek pembiayaan dan regulasi.
Hal tersebut disampaikan oleh pegiat pemberdayaan sekaligus peneliti mandiri, Ir. Oswan Kurniawan, saat ditemui awak media di kediamannya, Senin (13/04/2026). Ia memaparkan berbagai hasil riset dan inovasi yang telah dikembangkan, termasuk budidaya Kelambi Duri dan produk pendukung berupa media tanam Kompos Plus yang cocok untuk tanaman hortikultura dan sayuran.
Permintaan Tinggi, Terhambat Modal
Oswan mengungkapkan, minat pasar terhadap produk turunan Kelambi Duri sebenarnya cukup tinggi. Ia bahkan telah menerima sejumlah permintaan hingga tawaran kontrak kerja sama. Namun, keterbatasan modal menjadi kendala utama dalam merealisasikan peluang tersebut.
“Permintaan sudah banyak, bahkan ada yang mengajukan kontrak. Tapi belum bisa kami penuhi karena keterbatasan modal,” ujarnya.
Menurutnya, Kelambi Duri sangat mudah dibudidayakan di Indonesia. Namun, pengembangannya membutuhkan dukungan serius dari pemerintah, terutama dalam bentuk regulasi yang jelas serta fasilitasi pembiayaan agar dapat dikembangkan secara massal, terstruktur, dan terukur.
Minim Tindak Lanjut dari Pemerintah
Lebih dari satu dekade menekuni potensi tanaman ini, Oswan mengaku memiliki pengalaman kurang menggembirakan dalam berinteraksi dengan instansi pemerintah. Ia menyebut pernah menerima kunjungan dan berdiskusi dengan dinas terkait, namun tidak berujung pada tindak lanjut konkret.
“Saya sudah pernah menyampaikan potensi ini ke dinas. Mereka datang, tapi sampai sekarang tidak ada kelanjutan. Padahal ini bisa jadi sumber devisa negara jika dikelola serius,” tegasnya.
Pengalaman tersebut membuatnya enggan untuk terus mengajukan permohonan bantuan, meski ia tetap berharap adanya perhatian nyata dari pemerintah.
Multifungsi: Lingkungan hingga Industri Tekstil
Keunggulan Kelambi Duri tidak hanya terletak pada nilai ekonominya, tetapi juga manfaat lingkungannya. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan Oswan, serat kapas sutra dari tanaman ini memiliki daya serap tinggi terhadap minyak, sehingga berpotensi digunakan sebagai solusi alternatif dalam penanganan tumpahan minyak di laut.
“Kapas ini bisa dihamparkan di laut untuk menyerap tumpahan minyak. Kami sudah melakukan uji coba dan hasilnya efektif,” jelasnya.
Selain itu, serat Kelambi Duri juga dapat diolah menjadi bahan tekstil berkualitas tinggi yang memenuhi standar ekspor. Hal ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menembus pasar global dengan produk berbasis sumber daya lokal.
Harapan ke Depan
Di tengah besarnya potensi tersebut, Oswan berharap Kelambi Duri tidak sekadar menjadi komoditas yang terlupakan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah untuk mengembangkan komoditas ini sebagai sumber kesejahteraan masyarakat sekaligus penggerak ekonomi daerah.
“Jangan sampai potensi besar ini mati suri. Ini bisa jadi kekuatan ekonomi baru jika dikelola dengan serius,” pungkasnya.
(Reporter: Gilang dan Tim)
