Kota Tasikmalaya, 14 Juni 2025
zona TV
Kepada Yth.
Pimpinan Ormas Islam Terbesar di Indonesia
Yang kerap menyerukan slogan: “Indonesia Harga Mati”
Di tempat
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Perkenalkan, saya Yayan Supiana, rakyat biasa dari Kota Tasikmalaya.
Saya menulis surat ini bukan dengan kemarahan, tetapi dengan luka yang dalam dan kesedihan yang tidak bisa lagi disimpan diam.
Saya tumbuh besar dengan mendengar nama besar ormas kalian—yang katanya pelindung umat, penjaga negeri, pembela tanah air.
Saya dulu percaya bahwa ketika bangsa ini diguncang, kalian akan berdiri di barisan terdepan.
Saya dulu bangga saat kalian berseru:
> “Indonesia Harga Mati!”
Tapi hari ini, saya justru ingin bertanya:
Apakah kalian masih percaya dengan kata-kata itu?
Atau sekarang maknanya telah berubah menjadi:
> *“Tanah air dijual, asal izinnya resmi.”
Kami mendengar pemerintah sudah menutup beberapa tambang.
Tapi apakah itu cukup?
Siapa yang menjamin tambang-tambang lain, seperti di Raja Ampat, tidak dilanjutkan?
Siapa yang berani memastikan bahwa ormas Islam yang kini diberi izin tambang oleh negara, tidak akan ikut merusak hutan dan tanah warisan leluhur?
---
Kami rakyat kecil ini heran.
Saat rakyat menjerit karena tanahnya digusur,
airnya tercemar,
dan hutannya hilang—
**kalian diam.
Bahkan lebih menyakitkan: kalian ikut menambang.
Dulu kalian berdakwah,
sekarang kalian berdagang lahan.
Dulu kalian orasi tentang penjajahan,
sekarang kalian berdiri di belakang alat berat.
> Apakah ini yang disebut cinta tanah air?
> Atau cinta konsesi dan hasil tambang?
---
Saya hanya rakyat biasa.
Tidak punya panggung.
Tidak punya media.
Tapi saya masih punya nurani.
Dan saya ingin sampaikan dengan jelas:
“Indonesia Harga Mati” bukan slogan murahan.
Jika kalian betul-betul mencintai negeri ini,
berhentilah merusak atas nama pembangunan.
Berhentilah menjual tanah ibu pertiwi atas nama “investasi hijau”.
---
> “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya...”
> *(QS. Al-A’raf: 56)
Semoga ormas Islam terbesar di negeri ini kembali sadar:
Bahwa tugas kalian bukan menambang,
tapi menjaga.
Bukan mengeruk,
tapi merawat.
Bukan sekadar teriak,
tapi hadir membela rakyat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hormat saya,
Yayan Supiana
Rakyat Biasa
Kota Tasikmalaya, Jawa Barat
Diterbitkan oleh: media zona TV
