Sejarah Islam 10 Muharram (Asyura) dan Refleksinya dalam Kehidupan Umat

 


Penulis: Santi Nurmayanti

Editor: Pimpinan Redaksi

Rubrik: Pojok Sejarah – Special Redaksi Zona TV Nasional


Memaknai Hari Asyura, Momentum Syukur, Keteguhan, dan Kebaikan


Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan) dalam ajaran Islam. Di antara hari-hari istimewa dalam bulan tersebut, tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah perjalanan umat manusia dan peradaban Islam.


Hari Asyura tidak hanya menjadi pengingat atas berbagai peristiwa besar yang dialami para nabi terdahulu, tetapi juga menjadi momentum spiritual bagi umat Islam untuk meningkatkan keimanan, rasa syukur, kepedulian sosial, serta keteguhan dalam menegakkan kebenaran.


Jejak Sejarah Hari Asyura


Peristiwa-Peristiwa Agung Sebelum Islam


Dalam berbagai riwayat dan tradisi Islam, tanggal 10 Muharram dikaitkan dengan sejumlah peristiwa besar yang menunjukkan pertolongan Allah SWT kepada para nabi dan hamba-Nya yang beriman.


Di antaranya adalah peristiwa ketika Nabi Musa AS dan Bani Israil diselamatkan dari kejaran Firaun. Atas izin Allah SWT, Laut Merah terbelah sehingga menjadi jalan keselamatan bagi Nabi Musa dan kaumnya. Sementara itu, Firaun beserta bala tentaranya ditenggelamkan ketika berusaha mengejar mereka.


Selain itu, disebutkan pula bahwa pada hari Asyura:


- Nabi Nuh AS beserta para pengikutnya turun dari bahtera setelah banjir besar surut.

- Nabi Ibrahim AS diselamatkan Allah SWT dari kobaran api Raja Namrud.

- Nabi Yusuf AS dipertemukan kembali dengan ayahnya, Nabi Ya'qub AS, setelah bertahun-tahun berpisah.

- Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan setelah memanjatkan doa dan memohon ampun kepada Allah SWT.


Berbagai peristiwa tersebut menggambarkan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang kepada hamba-Nya yang sabar, bertawakal, dan tetap teguh dalam keimanan.


Asyura Setelah Datangnya Islam


Ketika Rasulullah Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Saat ditanya alasannya, mereka menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kezaliman Firaun.


Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah SAW bersabda:


"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka."

(HR. Bukhari dan Muslim)


Kemudian Rasulullah SAW melaksanakan puasa Asyura dan menganjurkan para sahabat untuk berpuasa pada hari tersebut.


Setelah puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura berubah status menjadi puasa sunah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yakni dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu.


Tragedi Karbala: Pelajaran tentang Keberanian dan Kebenaran


Tanggal 10 Muharram juga tercatat dalam sejarah Islam sebagai hari terjadinya Tragedi Karbala pada tahun 61 Hijriah.


Dalam peristiwa tersebut, Husein bin Ali RA, cucu Rasulullah SAW, bersama keluarga dan para pengikutnya gugur sebagai syuhada dalam perjuangan mempertahankan prinsip kebenaran dan menolak penyimpangan kekuasaan pada masa itu.


Peristiwa Karbala menjadi simbol keberanian, pengorbanan, serta keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan. Hingga kini, kisah tersebut terus dikenang sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam di seluruh dunia.


Refleksi Makna Hari Asyura


Di balik sejarah panjang yang melatarbelakanginya, Hari Asyura mengandung nilai-nilai luhur yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


1. Menumbuhkan Rasa Syukur kepada Allah SWT


Berbagai kisah penyelamatan para nabi menunjukkan bahwa Allah SWT selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang beriman. Karena itu, Hari Asyura menjadi momentum untuk memperbanyak syukur atas nikmat kesehatan, keselamatan, rezeki, dan kesempatan hidup yang diberikan Allah SWT.


2. Meneladani Kesabaran dan Keteguhan


Perjuangan Nabi Musa AS, Nabi Nuh AS, hingga Husein bin Ali RA mengajarkan bahwa jalan kebenaran sering kali dipenuhi ujian. Namun kesabaran, keyakinan, dan keteguhan prinsip akan membawa seseorang pada kemuliaan di sisi Allah SWT.


3. Momentum Muhasabah dan Perbaikan Diri


Keutamaan puasa Asyura menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk melakukan introspeksi, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak kepada sesama.


4. Menegakkan Keadilan dan Kebenaran


Peristiwa Karbala memberikan pelajaran bahwa membela kebenaran merupakan tanggung jawab moral yang tidak boleh ditinggalkan. Nilai kejujuran, keberanian, dan integritas harus tetap dijaga meskipun menghadapi berbagai tekanan dan tantangan.


5. Memperkuat Ukhuwah dan Kepedulian Sosial


Hari Asyura juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Berbagi rezeki, membantu mereka yang membutuhkan, menyantuni keluarga, serta mempererat tali persaudaraan merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang.


Penutup


Hari Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Hijriah. Ia merupakan simbol perjalanan iman, kesabaran, perjuangan, dan pertolongan Allah SWT yang senantiasa menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.


Melalui peringatan 10 Muharram, umat Islam diajak untuk memperkuat rasa syukur, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki diri, serta meneguhkan komitmen dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.


Semoga nilai-nilai yang terkandung dalam Hari Asyura dapat menjadi inspirasi bagi seluruh umat Islam untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna, penuh keberkahan, serta senantiasa berada dalam ridha Allah SWT.


Penulis: Santi Nurmayanti

Editor: Pimpinan Redaksi

Penerbit: Zona TV NasionalUntuk tayang di media online, saya juga menyarankan judul yang lebih kuat secara SEO:


"Sejarah 10 Muharram (Asyura): Jejak Para Nabi, Tragedi Karbala, dan Refleksi Kehidupan Umat Islam"


atau


"Makna Hari Asyura 10 Muharram: Sejarah, Keutamaan Puasa, dan Hikmah yang Relevan Sepanjang Zaman".

Lebih baru Lebih lama