Selamat Hari Jadi Pagar Nusa ke-40 Tahun 2026

 

Menjaga Warisan Pencak Silat, Merawat Tradisi, Mengawal NKRI

Special Redaksi | Zona TV

Zona TV mengucapkan Selamat Hari Jadi Pencak Silat Pagar Nusa ke-40, yang diperingati pada 3 Januari 2026. Momentum empat dekade ini menjadi tonggak penting perjalanan Pagar Nusa sejak didirikan pada 3 Januari 1986, sebagai wadah pelestarian pencak silat pesantren yang berakar pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan kebangsaan.

“Salam Madrasah, Salam Pagar Nusa! Selamat ulang tahun ke-40 untuk seluruh pendekar Pagar Nusa di penjuru Nusantara,” demikian penghormatan disampaikan kepada para pendekar, pelatih, kiai, dan santri yang terus menjaga marwah organisasi hingga hari ini.

Kilas Balik Sejarah Pagar Nusa

Sejarah Pencak Silat Pagar Nusa bermula dari keprihatinan para kiai Nahdlatul Ulama (NU) terhadap merosotnya tradisi pencak silat di lingkungan pesantren. Arus budaya luar yang semakin kuat dinilai menggerus nilai-nilai luhur bela diri khas Nusantara yang sarat akhlak, spiritualitas, dan nasionalisme.

Keprihatinan tersebut mendorong para tokoh NU untuk melakukan musyawarah dan perumusan langkah strategis guna menyatukan berbagai perguruan silat di lingkungan NU dalam satu wadah resmi.

Latar Belakang dan Proses Pembentukan

Pemicu Utama

Keresahan para kiai NU melihat pencak silat pesantren mengalami kemunduran, baik dari segi regenerasi maupun nilai spiritual dan kebangsaan.

Inisiator dan Penghubung

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menjadi salah satu tokoh yang menginisiasi komunikasi dengan mempertemukan KH Suharbilah dengan KH Abdullah Maksum Jauhari (Gus Maksum) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Musyawarah Pendiri

Pertemuan awal berlangsung pada September 1985 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan dilanjutkan dengan pertemuan bersejarah di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 3 Januari 1986, yang melahirkan organisasi Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU) Pagar Nusa.

Peresmian Organisasi

Pagar Nusa resmi diakui dan disahkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 16 Juli 1986, bertepatan dengan 19 Dzulhijjah 1406 H.

Tokoh-Tokoh Penting

Pendiri

KH Abdullah Maksum Jauhari (Gus Maksum), KH Suharbilah, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), serta sejumlah kiai NU lainnya.

Ketua Umum Pertama

KH Abdullah Maksum Jauhari (Gus Maksum).

Lambang, Semboyan, dan Maknanya

Pagar Nusa memiliki lambang khas yang sarat filosofi, dirancang oleh KH Suharbilah, dengan elemen utama:

Segi lima berwarna hijau

Bola dunia

Bintang sembilan

Trisula

Pita bertuliskan semboyan:

“Laa Ghaliba Illa Billah”

(Tiada kemenangan kecuali dengan pertolongan Allah SWT)

— semboyan ini diusulkan oleh KH Samsuri Badawi.

Keseluruhan simbol tersebut melambangkan perjuangan NU, kekuatan spiritual Islam, serta komitmen kebangsaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tujuan dan Peran Strategis

Sejak berdiri, Pagar Nusa memiliki tujuan utama, antara lain:

Menyatukan berbagai perguruan pencak silat NU dalam satu wadah organisasi.

Mengembangkan pencak silat berbasis syariat Islam dan nilai kebangsaan.

Mengawal perjuangan NU serta menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI.

Berperan aktif dalam bidang seni bela diri, olahraga, budaya, dan pengabdian masyarakat.

Dalam perjalanannya, Pagar Nusa bernaung di bawah NU sebagai badan otonom, dilengkapi dengan seragam khas, sabuk hijau, atribut organisasi, serta memiliki Pasukan Inti (PASTI) sebagai simbol kedisiplinan dan kesiapsiagaan.

Refleksi Empat Dekade

Memasuki usia 40 tahun, Pagar Nusa diharapkan terus menjadi benteng tradisi pencak silat pesantren, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri. Konsistensi dalam menjaga nilai akhlak, spiritualitas, dan nasionalisme menjadi kunci keberlanjutan organisasi ini di masa depan.

Penulis: Gilang

Editor: Pemimpin Redaksi

Sumber: Berbagai literatur dan pustaka sejarah Pagar Nusa


Lebih baru Lebih lama